Sunday, September 21, 2008

Hidup Adalah Udunan

Malam kemarin, kira - kira jam 8 malam, sebuah sms masuk ke hp saya, "jadwal buka bareng buat besok: jam 13 - 20 Baksil, jam 13 - 19 Altim, .... " . Ok, pastinya hari ini bakal ada team splitting, since "Si Ibu" hasn't yet mastered Kage Bushin no Jutsu.

Ya, akhirnya setelah kumpul sebentar di Aula Timur, saya kebagian untuk ikut acara Bersaling di Lebak Siliwangi yang akhir - akhir ini sedang naik daun itu. :D . Hmm..., ternyata Bersaling adalah acara "Berbuka Sambil Ingat Lingkungan", sebuah acara yang sudah 4 tahunan digelar oleh sekelompok komunitas lingkungan hidup. Untuk acara tahun ini, yang terlibat diantaranya adalah Greeners (nampaknya mas - mas dan mbak - mbak Greeners ini yang selalu ada di tiap tahun), Sahabat Walhi, U-Green ITB, HMTL, Common Room, Bike to Work, apalagi ya..., keknya masih banyak deh, plus KM ITB yang nampaknya baru terlibat tahun ini secara kebetulan... hehe.

Hmmm... meskipun hanya terlibat di hari-H, banyak sih hal yang menarik perhatian saya. Dari hal penting semisal konsep acara dan partisipasi para komunitas hingga "hal tidak penting tapi menyebalkan" seperti bagaimana Mas Raka dapat hadiah door prize tas Eiger seharga 155 ribu tepat setelah saya katakan, "wah, gw mah belum pernah menang undian apa - apa seumur hidup, Rak!" Dan benarlah Tuhan itu Maha Mendengar, karena kode kupon Mas Raka adalah 000836 dan kode kupon saya 00837! Lain kali harusnya ngucap yang bagus - bagus, katanya doa di bulan Ramadhan makbul. Atau hal yang lebih tidak penting lagi seperti kenyataan bahwa Mas Raka memang orang gerakan dan saya terlalu banyak berwacana. Roaming mode on.

Ok, roaming mode off, kita kembali ke topik. Hal yang paling menarik perhatian saya dari semua kejadian hari ini adalah..... sebuah statement: "hidup adalah udunan". Sebenarnya sih, kalimat tersebut bukan statement dari siapa - siapa, cuma kebetulan tertulis di kaos salah seorang rekan, entah dari mana... pokoknya saya melihatnya ketika acara masih di Sanggar Olah Seni di Lebak Siliwangi. Saat membaca tulisan tersebut sebenarnya saya tidak begitu paham apa maksudnya. Barulah ketika acara berakhir saya baru mengetahui apa maksudnya, or at least I thought so.

Setelah acara berakhir, tidak ada kumpul evaluasi... . Yang ada hanyalah ya... kumpul - kumpul saja antara rekan - rekan yang terlibat dalam acara sambil memberi apresiasi satu sama lain. Something that is lost from this campus: apresiasi. Intinya, di kumpul - kumpul tersebut, rekan dari Greeners (saya lupa namanya... ampun kakak) menceritakan bahwa memang acara ini adalah "udunan" dari komunitas - komunitas yang ada. Semua yang ada berusaha memberikan apa yang mereka punya. Ya.. pokoknya mah bersaling aja, saling membantu, sekuat apa bisa memberikan bantuan. Kalau saya pikir - pikir lagi... ya memang nampaknya orang - orang yang ada disini memang "tulus" saja. Ada Yuki Pas Band yang mengisi acara, juga sebuah grup vokal Waseso (yang menurut saya sangat skillful!), nampaknya mereka tidak mendapat reward finansial dari acara ini. Apalagi para panitia dari rekan - rekan komunitas lingkungan... .

I wrote some off terrible lines before I come to this and delete the previous sentences I wrote. In the end, I want to stop whining. Well, they say it's a good month to pray so I'll just pray that KM ITB can someday reaches that kind of inter-community team working greatness among its stakeholders inside this campus. May one day the all the twenty-something-of-something and seventy-something-of-something could "bersaling" to actuate those vow we take each time we cast that "Salam Ganesha" spell into reality. Hopefully soon.

Friday, September 19, 2008

An 8K Watch

Sebuah sore yang biasa saat saya berjalan tergesa dari Plesiran menuju kampus, ada kumpul yang harus saya hadiri dalam waktu kurang dari setengah jam lagi. Dan saya, dalam kasus saya tidak hanya merepresentasikan diri sendiri, umumnya cukup rewel terhadap ketepatan waktu. Oleh karena itu, dalam keadaan seperti sore tersebut, biasanya saya akan berkali - kali mengambil hp untuk sekedar melihat jam berapa tepatnya sekarang. Dan.. ups! My phone was running out of power.

Thus... dalam kondisi yang sama sekali tidak saya sangka, di jalan Plesiran yang lenggang sore itu, diantara deretan bangunan kecil yang jika pagi merupakan warung - warung tempat sarapan para mahasiswa, sebuah toko reparasi arloji mengobral beberapa pasang jam tangan dengan harga hanya: 8 ribu saja. It won't take even 5 minutes to pick a watch, pay the sales 10k and receive the 2k return, that's what I thought. With not so much consideration... there I went buying an 8k rupiahs watch!

Saya orang yang agak terlalu mementingkan faktor fungsionalitas. Saya termasuk orang yang tidak habis pikir bagaimana sepotong pakaian bisa berharga jutaan rupiah, sebuah tas atau sepasang sepatu bisa berharga puluhan juta rupiah, atau mengapa sebuah ponsel harus dilengkapi dengan berlian! Those don't add any functionality to the product.

Saya tidak suka membeli benda yang tidak ada "benchmarking" nya. That's why, most of dress I have, shoes I wear or bag I carry were bought by someone else than me: my mother, my sisters, or my girlfriend. Kenapa? Karena... saya memang umumnya tidak tahu bagaimana harus mendefinisikan mahal atau murahnya sebuah produk yang tidak bisa diukur.

Konon katanya ada harga ada kualitas, dan dalam kebanyakan kasus... itu benar. Sebutlah merk - merk laptop tertentu yang harganya lebih mahal dibanding merk laptop lainnya pada spesifikasi yang sama. Umumnya memang "laptop mahal" tersebut memiliki benchmark yang lebih baik dibandingkan yang "lebih tidak mahal". Atau sepatu basket Spalding saya -the most expensive fashion product I ever have- memang lebih tahan lama dibandingkan sepatu murah yang saya beli di pasar dekat rumah. Atau tas ransel dengan harga yang lebih mahal biasanya memang memiliki kompartemen yang lengkap dan cenderung lebih aman untuk menyimpan benda - benda macam laptop atau kamera. But I do think that there are limits to how expensive a product can be based on their functionalities!

Watches, in the end, should only used to tell us time... not to tell people of how rich someone is. Shoes in the end will stick below my feet and deal with any dirty things I step on, it won't be put on my head like a crown. I do dress differently in different occasion: it won't be good wearing a t-shirt to come to an important meeting; I always wear formal suit when attending my office; It will be ridiculous to wear a Koko to run joggin in Sabuga; It will even be more weird to wear a training and a jumper on Idul Fitri feast. But dresses in the end should only cover my body and suit to occasions I deal with. Dress, shoes, watches, phone cell, laptop, or any other product is only devices for me... and devices won't ever define people who use them!

Then, there I went picking up an 8k rupiahs watch. It ended that watch could only stand for 3 days. Talinya putus -iki angel boso inggrise-. Well... 8k rupiahs I spent that afternoon at least tell me that... prices do provide some qualitites! But I still believe that there should be limit of how expensive every products can be... . That's why, if I ever one day buy another watch.... it might be somewhere around 80k - 180k watch that can last for years, but I won't buy an 8m watch for any reason, definitely!

Monday, September 01, 2008

Will We Say We've Had a Fun?

Ha! Where have I been lately? Ya… hehe, boro – boro dari dunia maya, rekan – rekan saya di labtek V aja bilang, “kemane aje lo bal?” Gyaha, quite a question I can’t answer in short. Tapi, mari kita singkat saja bahwa I’ve been always around Tamansari 62 for the whole time… it’s just I was running into quite two troublesome places. Hehe.

Ok, tadi malem (30 Agustus 2008), kira – kira sejak sekitar jam 18.30 sampai sekitar jam 21.30 saya “pulang”. Really feels like home aja kembali ke suasana seperti di musik sore HMIF tadi. Iya, musik sore, mulainya mah aslinya jam 17.00 –this should explain the word ‘sore’, right?- , tapi saya terperangkap di kosan karena diluar hujan deras gila. Hmmm how should I say this? Ya… seneng banget lah.

Secara nawaitu, saya sih sudah meniatkan bahwa penampilan saya di musik sore kali ini bakal jadi penampilan terakhir di kampus. Kenapa? Sederhana aja, sejak kuliah saya memang akhirnya tidak pernah punya band tetap dan tidak pernah secara teratur berlatih, apalagi mengembangkan skill :p. Jadi, karena memang ga punya band serius, tidak mungkin pula pasca kuliah lantas bakal ada kesempatan naik stage lagi, atau bikin konser, atau tampil di pensi anak sekolah, atau masuk dapur rekaman label indie, let alone major label. Dan insya Allah lagi, nawaitunya mah saat HMIF bikin acara musik sore lagi, status saya sudah bukan mahasiswa, semoga sudah ST. Hehe.

Hmm… sebenernya mah buat saya musik tuh salah satu alat komunikasi. Kalo teorinya mah kan komunikasi melibatkan tiga hal, komunikan (objek komunikasi), komunikator (subjek komunikasi) dan pesan yang dipertukarkan. Kalo salah ya maaf, this is a blog after all, not some IEEE journal entry. Nah, selakunya saya sebagai si komunikator, ada message memang yang pengen saya sampaikan kepada audience di music sore tadi. Dan yang paling mewakili, meskipun ketiga lagu yang band saya mainkan semuanya pingin ngebawa message tertentu, adalah bait pertama dari lagu Rooftops-nya Lostprophets.

When our time is up

And our life is done

Will we say “we had a fun”?

Will we make a mark this time?

Will we always say we tried?

Pada akhirnya, sekitar 3 tahun lebih ngelakuin aktivitas di seputar labtek V membawa saya pada kesimpulan bahwa…. berhimpunan itu capek. Hehe. Ikutan kaderisasi, jadi panitia mukrab, ngekader anak orang, ga boleh ngekader anak orang, ikut kepanitiaan, terlibat di proker himpunan, ngarak – ngarak wisuda, nge-swasta, rapat DE, etc lah. That’s all tiresome and troublesome things. Hehe.

Tapi bukan itu point utamanya. What more matter is whether in the end, when we try to remember those days, we will say, “we had a fun.” Ya… karena emang yang bisa dikenang itu hal – hal yang begitu. Hal – hal yang bikin repot dan capek.

Yang saya kenang sih ya begitu: jargon “Roma pasti bangkit” yang terus menerus didengungkan kaisar dan para ketua kelompok serta temen – temen kelompok Roma yang lain di titik – titik ternadhir kita saat menjalani kaderisasi; arak – arakan wisudaan yang keren abis; pertama kali nginep di kampus, tidur di selasar dingdong buat ngejagain properti Mukrab bareng Ibi, Heri, Jamak, Dendy, Ahmy , dan keseluruhan persiapan Mukrab 2005; diterjunkan jadi panitia OSKM 2005 dan ikutan TFT bareng anak – anak 2004 yang lain demi bisa “mengkader” 2005; rapat tim acara PPAB; panggilan malam buat para calon danlap; kaderisasi yang terpakasa dihentikan; tiga kali persiapan persembahan angkatan untuk Mukrab 2006, 2007, dan 2008; rapat – rapat tim amandemen AD/ART yang melelahkan dan tidak produktif :D; rapat – rapat PSDA bareng Mira, Nanto, Difa, Anto dkk yang kelewat hobby mikir :p; tim sukses… thanks to Olip, Ibi, Ume, Aqi dan David that with your help I had a chance experiencing great and troublesome things; rapat – rapat DE yang penuh warna; penculikan pelantikan 2006; jadi swasta pertama kalinya; jadi swasta kedua kalinya (dan semoga terakhir kalinya). I should say… those things are “tiresome” and “troublesome”.

Mungkin itu message yang saya pingin sampaikan sama temen – temen terutama 2007 dan 2006 yang jalannya masih “lumayan panjang”. Hehe. Kalo menurut saya mah, pastinya nanti capek dan melelahkan. Tapi ya kalau ga gitu, apa yang mau dikenang? Apa yang mau didapet? Kalo habis kuliah terus langsung pulang aja… mau mengenang apa selama kuliah? Banyak kepanitiaan dan pengalaman lain di himpunan selama 2004 – 2008 yang ga saya sebutkan, alasan pertama ya emang bakal kepanjangan aja kalo disebutin semua, tapi alasan kedua… ya memang ga di semua tempat juga saya pernah ikutan repot, kecapekan dan kelelahan. Dan pasti ada yang punya memori – memori lain di.. let say.. Seminar 3G, IT Within, Kunjungan ke SD Plesiran, LKO 2004, dll lah, banyak HMIF mah kegiatannya. Kalau ga pernah ikutan repot, apa yang bisa diinget – inget? Can you one day say that you had a fun? Kalau dijalanin bareng – bareng sih rasanya mah bakalan fun koq…

Persahabatan bagai kepompong

Mengubah ulat menjadi kupu – kupu

Pershabatan bagai kepompong

Hal yang tak mudah berubah jadi indah

Mungkin juga, itu message yang pingin saya sampaikan ke rekan – rekan seangkatan. Thank you all for giving me a new place I can call home in labtek V. It’s not like I really ever homestayed there, though. Buat saya mah, ya… saya bakal jawab sendiri, “I’ve had so many funs with you all”. Banyak lah… susah banget kalo disebutin satu – satu. Hehe. Tapi mungkin buat yang malem ini, special thanks banget buat Echa dan Ebhe yang nemenin saya di my last stage performance ever in campus. Hehe. It’s always fun to play music with you both.

As for me, urusan “troublesome” saya di kampus ternyata masih belum bisa tuntas. Hehe. Ada lagi nih, paling nggak sampe bulan April tahun depan… urusan yang pastinya… more troublesome, more tiresome. Baru empat bulan di urusan itu aja udah dapet selebaran gelap berisi fitnah. Gyaha. It’s something I never experienced in my “home” for more than four years now. Tapi ya… sekarang saya mah bener – bener looking forward to it aja. Kalo nasehatnya Zulkaida –somehow he is not older than me in age, but he is very much wiser than most of adults I’ve ever met-, kalau mau bergerak di kemahasiswaan itu syaratnya tiga: kepala yang bervisi, hati yang mencintai, dan kesungguhan yang dilaksanakan dengan konsistensi. Doooh! I hope in this another troublesome thing I can really say, one day, “I had a fun!”

Standing on the rooftops

Wait until the bomb drops

This is all we got now

Scream until your heart stops

Never gonna regret

Watching every sunset

We’ll listen to your heartbeat

All the love that we found

Scream your heart out!

Monday, June 16, 2008

For Better Football

Um, I've been a football fan for quite 12 years now. Dan sepanjang itu pula saya melihat hal - hal menyenangkan dan hal - hal tidak menyenangkan dari sepakbola. Sekarang, saya rasa tidak ada salahnya kalau saya boleh berandai - andai, umpama... saya Sepp Blatter, maka saya ingin mengimplementasikan beberapa aturan. Ok, sebelum melangkah lebih jauh, saya ingin menegaskan bahwa apa yang saya tuliskan berikut cuma opini jail dan tentunya tidak perlu diperdebatkan secara ilmiah. But I try to make it as logical as possible.

  • Replay video to Help referee decision
Idenya begini, semakin lama... semakin banyak saja keputusan wasit yang berbau kontroversial. Dalam perspektif saya, ini mudah saja dipahami, wasit hanya 1 dan hanya dibantu 2 hakim garis. Tentunya sangat sulit berlari mengikuti kecepatan para atlit dong... . Pasti sulit untuk bisa mengamati dengan benar 100% setiap kejadian di lapangan.

Yang menyebalkan, kadang keputusan yang salah bisa mengubah pertandingan 180 derajat! Contoh kasus: menganulir gol yang sebenarnya onside, memberikan penalti yang salah, mengesahkan gol yang sebenarnya offside, etc. Hal - hal seperti ini mengganggu dan kadang menimbulkan "teori konspirasi" diantara para fans. Saya sendiri sebagai tifosi Itali tidak terlalu percaya bahwa UEFA berusaha menyingkirkan Itali meskipun wasit secara fatal menganulir gol Luca Toni pada partai Rumania vs Itali yang lalu. That's human error, I guess.

Nah itulah! Human made error, that's why we invent technology! Ya kan sekarang kamera sudah terpasang dengan baik di stadion - stadion di Eropa. Kenapa tidak digunakan untuk membantu keputusan wasit? Ada baiknya mencontoh olahraga tenis. Setahu saya dalam tenis, seorang pemain punya jatah 3 kali untuk meminta wasit memeriksa rekaman video untuk memastikan keputusannya benar atau salah. Kenapa tidak dalam sepakbola? Saya merasa agak tidak adil bahwa seorang pemain bisa diberi hukuman larangan bermain pasca pertandingan berkahir dengan dasar bukti rekaman video. Artinya, sistem yang ada saat ini membolehkan sebuah kesalahan pemain yang tidak terhukum untuk dihukum di kemudian waktu dengan dasar rekaman video. Sebaliknya, sistem saat ini tidak memungkinkan keputusan yang merugikan pemain untuk bisa "diralat". Well... my common sense tells me that it's not fair.
  • Banning diving players while the play is on
Seringkali saat terjadi serangan balik yang cepat, tiba - tiba ada seorang pemain dari tim yang terkena serangan balik terjatuh dan mengerang kesakitan! Ugh! Salah satu momen paling menyebalkan, menurut saya. Ini juga suatu hal yang aneh, jika pemain yang terjatuh adalah tim lawan, umumnya penonton akan mencibir jika tim lawan tidak membuang bola untuk memberi kesempatan si pemain yg terjatuh tadi untuk diobati. Tapi, tak jarang saya lihat saat yang mengerang kesakitan adalah pemain dari tim yang sedang menguasai bola, permainan terus dilanjutkan... . Tidak adil.

Bagaimana kalau setiap pemain yang "terjatuh" pada saat bola play on, maka permainan harus dihentikan dan setelah permainan dilanjutkan pemain tersebut harus berada di luar lapangan dalam jangka waktu yang cukup lama, misal 10 menit. Dengan begini, seseorang akan berpikir banyak untuk "pura - pura cedera". Oiya, sekali lagi, ini hanya untuk yang "terjatuh" pada saat play on lho, jadi kalau ada pemain yang di-tackle dan lantas dinyatakan sebagai pelanggaran tentu tidak termasuk dalam perhitungan ini. Ayo, no country for divers!
  • Salary cap dan budget transfer limit
I once love football very much before money taking its toll too much in the fields. Sekarang... semua serba runyam. Yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin dan minim prestasi. Ok, Anda bisa bilang bahwa "uang tidak bisa memberi gelar". Tapi uang bisa membeli semua pemain yang dibutuhkan oleh sebuah klub untuk meraih gelar. Jurang antara klub kaya dan klub miskin semakin besar. Butuh data? Musim 2006/2007 big four liga Inggris hanya total kalah 1 kali dalam laga kandang melawan klub di luar big four tersebut. The competition now is only among the rich.

Harus ada salary cap dan budget transfer limit sehingga klub kelewat banyak duit macam Chelsea dan Real Madrid tidak bisa seenaknya merusak harga pasar dan membajak talenta - talenta besar dari klub semenjana. Jika setiap kali pemain macam C. Ronaldo dan Luis Nani muncul langsung diserobot MU, bagaimana klum macam Sporting dan FC Porto mau berkembang? I'm quite sick enough about how money influence the real world... . Could we preserve football from the evil of industrial world?
  • 6 + 5
Haha... ide yang ini sudah dilontarkan oleh Sepp Blatter sih: 6+5. Tentu para pemilik klub dan mungkin penggemar EPL bakal "dying" jika aturan ini diberlakukan.

6+5 artinya adalah dalam satu pertandingan, sebuah klub minimal harus memiliki 6 pemain asli negara bersangkutan atau yang dididik di negara tersebut. Ini bakal menarik.... . Kenapa? Masih berkaitan dengan poin sebelumnya..., untuk mencegah pembajakan aset dari klub - klub di negara semenjana. Ayolah... siapa sih yang tidak kenal Messi, Ronaldinho, Robinho, Baptista?? Tapi siapa yang kenal klub Brazil dan Argentina, negara asal mereka?

Aturan ini akan mencegah liga - liga eropa semakin kaya dan semakin berkuasa. Bagaimana tidak, semua pemain hebat dari berbagai benua tentu ingin bermain disana? Kapan dong liga lain maju? Kapan dong akhirnya Persija punya fans club di kota Turin? Kapan dong Liga Champions Asia hak siarnya mahal dan tinggi?


Ya... itu aja sih sekilas pemikiran iseng. Hehe. Well, saya bukan praktisi sepakbola sama sekali, jadi kalau dirasa pemikiran saya "konyol" ya tak apa. Ndak akan tersinggung. :D

Friday, April 25, 2008

Form is Temporary. Class is Permanent. Are They?

Sebenarnya sih maksud dari judulnya gini, “bentuk itu temporer, kelas itu permanen, iya gitu?” Cuma, saya memang suka sok – sokan pakai bahasa Inggris saja. Itupun masih harus dipertanyakan apakah gramatikanya benar atau tidak.

Tulisan ini saya buat beberapa jam sebelum partai Liverpool vs Chelsea pada leg pertama semifinal Liga Champions. Kedua klub dalam beberapa tahun terakhir seringkali bertemu di ajang Liga Champions yang sekaligus juga mengukuhkan hegemoni klub – klub yang berdomisili di Inggris (bukan klub Inggris lho ya, I mean… look at them! MU, Arsenal, Liverpool and Chelsea are all owned, coached and played by all but Englishmen! What a poor football nation!).

Sebenarnya, saya bukan fans keduanya. Tapi entah kenapa, beberapa tahun terakhir saya cenderung memihak Chelsea. Kenapa? Ya… karena saya sangat sebal dengan beragam pernyataan yang senada dengan “form is temporary, class is permanent”. Menurut saya, there’s no such thing like “class”! Bah! Atas alasan apapula sebuah klub berhak mengatakan dirinya classy? Sebuah klub bisa saja juara Champions 15 kali di masa lalu tapi kalau di tahun ini sedang buruk performanya, ya pasti tetap kalah. Jika class ditentukan berdasarkan sejarah masa lalu, mana mungkin di era 90an keatas muncul juara baru? Kenyataannya, AC Milan justru meraih sebagian besar gelar liga Champions mereka di era tersebut.

Tidak ada itu yang namanya class. Klub bagus bergantung pada bagaimana manajemen mengelola klubnya. Isi dengan pemain bagus (bukan mahal), bina pemain muda, jangan cepat menjual rising star, jangan cepat memecat pelatih kalau tidak memenuhi target, buat target jangka panjang…. in 5 years, klub macam Everton, Palermo, Stuttgart, atau Fiorentina pun pasti bisa menjadi juara liga Champions. Apalagi klub yang sudah mapan (baca: sering/banyak menjadi juara) di liga domestik macam Barcelona, Inter Milan, Manchester United, Juventus atau Chelsea pasti bisa mengejar gelar liga Champions milik Real Madrid, Liverpool dan AC Milan. It’s all about managerial, tak kurang tak lebih!

Kalau iya class is permanent, tak perlu lah itu Liverpool membeli Fernando Torres sampai berhutang – hutang segala. Memangnya meraih gelar bisa dengan sejarah masa lalu? Makanya, meskipun saya dulu sempat jadi Liverpudlian, malam ini saya lagi – lagi cenderung mendukung Chelsea. Ayo, Chelski, runtuhkan kesombongan “class” itu!

Wednesday, April 16, 2008

One Piece

Alhmadulillah, akhirnya 11 bulan 26 hari kepengurusan HMIF 2007/2008 berakhir sudah. LPJ yang dilangsungkan hari Sabtu (12/04) lalu pun memutuskan amanah ketua himpunan yang setahun ini sudah saya emban.

Saya sadar bahwa masih banyak hutang yang amanah yang belum terbayarkan oleh saya. Saya sadar bahwa masih banyak pihak yang dikecewakan. Oleh karena itu, saya masih akan terus membantu kepengurusan HMIF dibawah kahim baru Dwinanto Cahyo. Pokoknya, masih ngebantulah sampai tiba harinya saya melepas status sebagai anggota biasa HMIF. HMIF has given too many, I will never be capable enough of paying back what I’ve got here for these years…. . I still owe HMIF so many things. Ya… masih dalam kerangka mensyukuri berakhirnya masa kepengurusan, saya ingin berterimakasih kepada pihak – pihak berikut:

  • DE HMIF 2007/2008
Terimakasih atas kerjasamanya selama ini. Terimakasih sudah banyak member warna pada kepengurusan kita. Kepada kalianlah segala kredit dan apresiasi harus diberikan seumpama ada keberhasilan yang kita capai. Mohon maaf saya karena belum bisa mengoptimalkan semua potensi yang kalian punya.

Terimakasih buat Ibi, dari sejak masa kampanye hingga LPJ, telah menjadi telinga yang mendengar keluhan dan kepala yang membantu memberikan solusi; Jamak, meskipun sibuk di KM dan dimana – mana masih mau bantuin di DE; Vinta, telaten, sabar, dan masih harus sabar memegang amanah jadi DE setahun lagi… semangat, Vin!; Syva, pelit, galak, tanpa kompromi… sori karena ketuanya payah mengatur keuangan, situ jadi repot; Winda, greatest achievement of the year; Nanto, semoga sukses lebih sukses di kepengurusan besok; Catur, keras dan militan, makasih atas jerih payahnya dan sikap tegasnya; Inay, bigos, rame, good job dalam mengurusi urusan yang kalau istilah saya “rutin dan menjemukan”; Adhi, visioner, wise, bertanggung jawab, semoga sukses di DPP; Alsa, cool, calm, unpredictable, terimakasih atas kesabarannya meladeni ambisi “budaya menulis” saya; Halim, tenang dan kalem, good job there with TETAPI; Angga, paling kalem dan sabar, dipuji anak hublu karena kesabarannya membimbing hublu…; Meliza dan Ernes, terimakasih mau “diculik” ke DE dan semoga pengalaman setengah tahun ini bisa bermanfaat buat setahun kedepan di DE.
  1. Ibu Fitrasani, Senator HMIF
Thanks for great partnership selama ini. Fit, kita harus dapet award sebagai duet kahim-senator terkompak nih…. . Hehe, klaim seenaknya gini kita!
  • 2004 IF
Masih pada rame dateng ke acara – acara himpunan, teriak – teriak support ketika nonton pertandingan himpunan, ngekritik, ngebantai, dan ngasih solusi…. . Nuhun. Semoga cita – cita wisuda di bulan XXX (silakan diisi sendiri) bisa tercapai dan tidak tertunda. Hehe. Ayo, semangat TA!
  • 2005 IF
Makasih masih bantuin di tengah badai tingkat tiga yang dahsyat. Semoga semester enam-nya sukses. Viva Grafika! Hehe. Mohon tetep menyempatkan diri mengawasi, mengkritik, dan member saran solusi bagi kepengurusan yang baru….
  • 2006 IF
Antusias dan bergairah tinggi. Jangan patah semangat kalau melakukan kesalahan. Dari kesalahan itu kita belajar. Ayo, belajar lebih banyak dengan aktif di kepengurusan. Jangan pernah segan diskusi sama yang lebih tua. You all have great potential, I do believe in that! You are great and you can make great things!
  • Keluarga dan Pacar
Terimakasih atas dukungan dan kesabarannya dalam menghadapi situasi seperti, “Bal, besok nenek berangkat haji, bisa pulang ga?” “Um…… kayanya… ” dan berlanjut dengan “Ya, gapapa, semoga sukses ya, nak…. ."
  • My Precious
Thanks for being there when I was needy. You kept me breathing in my early period carrying this thing. Hope you’re happy with the way you are now…, you deserve all those happiness.
  • Fajrin, Lafra, Ivan Sugi
Terimakasih udah menjadi teman diskusi dan berdebat yang baik.
  • Simon, Mas Budi, Bung Ronsky dan Rija the Great
Terimakasih sudah menjadi senior yang sangat care terhadap kepengurusan. Semoga saya tidak mengecewakan para swasta sekalian. Hehe. Wish you all your best. Mon, wisuda itu adalah hoki, Mon! Sing sabar…. .
  • Mira Muliarti dan Tim GDK
Mother of GDK. Mengiringi dengan “darah dan air mata” semua kelahiran GDK. Apresiasi juga saya berikan kepada semua kru yang pernah terlibat dalam penggodokan GDK. Hope what you’ve born will be a great thing for HMIF.
  • Ebe, Echa, Dina, Peppy, Denug
Terimakasih kesabarannya dalam menghadapi PM yang sok sibuk…. . Sori yak…. .
  • Ahmy, Yovan, Syaugi… Team Rajawali
Yovan yang punya determinasi, skill dan work rate extraordinary; Ahmy yang skill dan reliable; Ogy yang alim, sabar, skill, hardworker dan luar biasa; We do know that we deserve to be there! You all will always be one of my greatest team mates ever. I shall continue my work, justice must be served!
  • This list could grow endlessly

Saya ga akan pernah bisa menyebutkan semua nama. Apapun, tidak satu amal baik pun yang tidak dibalas oleh Allah. Semoga semua jasa kalian diberi ganjaran yang baik oleh Allah SWT. Semoga aktivitas yang pernah kita lakukan setahun ini bisa menjadi amal baik.

Mohon maaf atas semua kekurangan saya selama mengemban amanah itu…. .

And for all those mistakes I make,
I apologize
And for all those beautiful things we’ve done
I am thankful
If this campus is a “grand line”
then you are my "one piece"

Wednesday, April 09, 2008

Kalau Google Benar Diblokir

Pagi yang aneh. Segerombolan anak - anak yang mengambil kelas Aplikasi Intelegensia Buatan pagi itu sibuk berdiskusi. Ya, diskusi, bukan ngegosip! :p Soalnya yang dibicarakan bukan perihal artis mana yang kawin cerai lagi, tapi berita edan tentang diblokirnya beberapa situs oleh Speedy. Alasannnya? Karena dari situs - situs ini (katanya) kita bisa memperoleh film Fitna. This is ridiculous!

Kenapa ini konyol?

1. Sebenarnya sih, film Fitna itu tidak akan seterkenal ini seumpama dia tidak dielu - elukan dan dilarang - larang peredarannya. Sebelum ada demonstrasi konyol menentang film itu, manalah saya tahu ada film bernama Fitna. Manapula saya berminat menonton apa isinya. Bah! Menonton sebulan sekali saja belum tentu, apalagi menghamburkan uang untuk film yang katanya mendiskreditkan agama saya. Lagipula, buat apa sih saya download film itu? Download ebook dan software penunjang akademis saya saja sudah cukup menghabiskan kesabaran saya apalagi download film yang konon menjelekkan agama saya. Cih, yang benar saja. Umpama film itu berukuran 50 Mb... ha, berapa hari yang saya perlukan untuk mendownloadnya dengan Speedy? Plis deh! Berasa bandwithnya gede amat si Speedy ini!

Jadi, kekonyolan nomor satu adalah: semakin Anda memberi publisitas besar pada hal - hal yang Anda tidak inginkan untuk diketahui publik, semakin besar pula minat orang terhadap hal tersebut. Semakin coba ditutupi, semakin bikin penasaran.

2. Jika sebuah pisau dapur digunakan untuk membunuh orang, Anda tidak lantas membredel perusahaan pembuat pisau dapur. Anda tidak lantas menarik semua pisau dapur dari peredaran. Kan kasihan para koki yang ingin memasak... . Nanti pak Bondan tutup usaha karena tidak bisa lagi wisata kuliner, demikian juga semua pengusaha warteg, warung padang, serta teteh warung nasi langganan saya.

Begitu juga, toh yang dilarang film Fitna. Masa' yang diblokir situs komunitas dan search engine? Yang benar saja! Duh... ini susahnya punya pemerintah yang tidak punya "e-leadership". Hehe, saya mengutip ucapan pak Soemitro Rustam dalam kuliah Sosioteknologi Informasi.

Kekonyolan nomor dua: jangan menyimpan film tak betul di hard disk, nanti kalau pemerintah ingin memberantas pornografi, mereka mungkin akan berpikiran untuk menarik semua hard disk dari peredaran!

3. Saya sudah speechless untuk menggambarkan kebodohan kebijakan ini. Tau ah!

Bayangkan.. nanti kami mahasiswa sedang mengerjakan tugas.. sedangkan Google diblokir. Ini skenario yang mungkin terjadi:
Saya: Oi, Ri, tolong cariin gw software ERP dong, yang open source ya
Teman: Lha, cari aja di Google
Saya: Itu masalahnya, di Indonesia sekarang Google diblokir
Teman: LOL.... -lantas dia mati ketawa karena sedemikian konyolnya kejadian ini-

Lesson learned number three: jangan kasih tau berita ini ke teman yang punya selera humor rendah sekaligus punya penyakit jantung.

Ah sudahlah... . Makin aneh - aneh saja pemerintah kita ini.

Monday, February 18, 2008

Definisi Formal dari Kata “Teladan”

Akhir – akhir ini saya cukup bersemangat dalam mengikuti perkembangan tim GDK HMIF. Setelah semedi, konstipasi, meditasi, dan diskusi panjang melelahkan sejak bulan Mei tahun lalu, akhirnya tim GDK mulai memiliki gambaran GDK HMIF. Profil kader mulai terbentuk dan karakter – karakter yang dirasa perlu dirumuskan sebagai pedoman pengkaderan di HMIF sudah didapat. We are getting closer to it! Tinggal satu masalah: mencari terminologi yang tepat. Disinilah kami bersepakat untuk merujuk pada kamus atau ensiklopedi agar memperoleh diksi yang baik. Setelah hampir sebagian besar entry kami temukan pada Encarta, kami menemui batu sandungan pada terminologi – terminologi yang “Indonesia banget”, misalnya kata “teladan”. Bersepakatlah kami untuk merujuk KBBI.

Entah kapan terakhir kalinya saya ke perpustakaan ITB sebelum hari ini. Sebenarnya saya bukan seorang yang malas membaca. Namun sungguh kunjungan ke perpustakaan ITB adalah sesuatu yang sangat “awful” bagi saya. Jika bisa, tentu saya akan memilih mencari referensi dari Encarta atau dari mbah Google saja daripada mencari KBBI disini. Karena… ok… saya ceritakan saja.

Berada di perpustakaan ITB serasa berada di parkir basement Bandung Indah Plaza. Langit – langit perpustakaan memang benar – benar mirip dengan langit – langit parkir basement BIP. Belum lagi lorong – lorong suram dan tidak nyaman di lantai dua dan tiga… . Ditambah bau apek buku tua yang terbengkalai dan bertumpuk tak teratur di rak – rak. Research university, anyone? Oh, please!

Sebagai makhluk yang jarang mengunjungi perpus, tentulah saya tidak tahu dimana KBBI terletak. Karena itu, saya merasa perlu mencari papan informasi…. . Dan pada momen itulah saya merasakan duka cita yang amat mendalam sebagai seorang mahasiswa Teknik Informatika ITB. Saya rasa papan informasi di parkir BIP saja lebih informatif dari pada papan informasi yang berada di sayap kiri lantai dasar perpus tersebut. Papan tidak menolong, beralihlah saya ke komputer yang seharusnya berisi katalog buku – buku yang ada di perpustakaan. Guess what? Saya terdampar ke zaman dimana GUI belum ditemukan! Saat sebagian distro linux sudah memiliki antarmuka dengan efek 3D luar biasa, katalog perpustakaan ITB hadir dengan antarmuka setara dengan tampilan BIOS. Ugh! Jangan pula Anda tanyakan reliability hasil pencarian yang diberikan. Search for “KBBI”, no result. Padahal ternyata ada.

Ayolah, saya rasa mau koq itu divpro HMIF dikasih proyekan untuk bikin sistem informasi yang layak bagi perpustakaan ITB kami tercinta, sekaligus mengisi ulang database katalognya kalau perlu. Kalau tidak salah sih sebenarnya HMIF memang pernah punya produk SIP (Sistem Informasi Perpustakaan). Tapi entahlah pernah diajukan untuk diimplementasikan di perpus pusat atau tidak.

Kan katanya ITB mau jadi research university. Masa’ kantin lebih ramai daripada perpus (ada tulisan saya lainnya terkait dengan hal ini disini). Padahal kan tak terhitung berapa buku bagus yang mungkin tersembunyi di lorong – lorong gelap dan bau apek di perpus itu. Saya bukannya tidak bersyukur dan mendambakan perpus yang mewah dan macam – macam. Saya hanya mendamba perpus yang nyaman, bersih, comfortable dan memiliki sistem informasi yang mengindikasikan bahwa kita berada di abad 21 (dan ini toh bisa didapat dengan biaya cukup murah mengingat di kampus ini ada sekelompok mahasiswa IT haus proyek yang harga jasanya nampaknya lebih reasonable dibandingkan dengan memproyek keluar). Betah nanti saya berlama – lama membaca buku, dari Hatta hingga Tan Malaka, dari Pramoedya hingga Emha, dari Halliday hingga Knuth. JK Rowling dan JRR Tolkien mungkin bolehlah ditambahkan. Hehe, mau perpus apa comic corner sih? :D

Eiya, ngomong - ngomong, definisi formal kata "teladan" apa ya? Anyone?

Saturday, February 09, 2008

Layu Sebelum Berkembang

Sebenarnya, tulisan ini merupakan terjemahan bebas dari tulisan Carlo Garganese, jurnalis www.goal.com favorit saya. Saya sebut terjemahan karena ya…. memang menerjemahkan saja, tidak banyak ide orisinil saya yang terlibat dalam tulisan ini, hampir 90% merupakan gagasan Mas Carlo (harusnya saya panggil Senor mungkin?). Saya sebut bebas… karena setelah saya menangkap gagasan inti Mas Carlo, saya tidak sungguh – sungguh menerjemahkan kata per kata atau kalimat per kalimat, sebebas saya saja…, seingat dan sepemahaman saya saja. Malas juga kalau harus kembali mencari artikel lama tersebut.

Carlo menyoroti perkembangan “daun muda” sepakbola di tiga negara sepakbola terkemuka: Italia, Spanyol dan Inggris. Menurut Carlo, dan beliau adalah seorang warganegara Italia jadi maklum saja kalau ada “domestic bias”, model pengembangan pemain muda di Spanyol dan Inggris kurang baik. Di Spanyol dan terlebih di Inggris, pemain – pemain muda “dipekerjakan” terlalu keras sejak dini. Sejak umur 18 – 19 tahun, pemain – pemain seperti Wayne Rooney, Cristiano Ronaldo, Cesc Fabregas, Lionel Messi atau Sergio Aguerro sudah secara regular bermain di klub dengan jadwal padat: liga domestik, piala liga, dan liga Eropa. Bayangkan, menginjak usia 23 tahun kelak, sudah berapa tackle sudah dirasakan seorang Lionel Messi? Seorang pemain dapat sembuh dari cedera, tapi engkelnya tidak pernah lagi engkel yang sama, demikian juga pace yang dimilikinya. Efeknya, pada usia yang harusnya menjadi usia emas pemain tersebut, sang pemain sudah kehabisan sebagian besar atribut fisiknya. Contoh yang paling tenar: Michael Owen. Saya sendiri berpendapat, Owen saat ini seharusnya pada usia emas, bukan saat ia 18 tahun dulu. Tapi, what does he achieve now? He is much like ex-rising star, without never really be a star.

Carlo membandingkan dengan model Italia. Pemain muda klub – klub besar Italia lebih lama “bergerilya” dengan dipinjamkan ke klub – klub kecil dengan jadwal yang tidak begitu padat. Katakan Marco Andreolli milik Inter, Sebastian Giovinco milik Juventus, atau Lino Marzoratti milik Milan. Anda tidak kenal mereka? Wajar, mereka belum menjadi seorang bintang sungguhan, sabar. Anda kan tidak kenal Andrea Pirlo waktu berumur 19 tahun? Atau… coba nama – nama ini: Gianluigi Buffon, Fabio Cannavaro, Alessandro Nesta, Luca Toni, ada yang Anda tahu dimana mereka bermain pada usia 18 – 20 tahun? Nah! Menurut Carlo, model ini lebih baik karena para pemain muda “matang pada waktunya”. Lihat saja pencapaian mereka saat ini!

Saya sendiri sependapat, diluar kenyataan bahwa saya juga penggemar sepakbola Italia. Untuk menambah argumentasi, saya ingin mengambil contoh tim nasional lain yang memiliki prestasi di ajang internasional: Jerman (FYI saya tidak suka Jerman, sungguh). Lihat lah nama – nama berikut: Lukas Podolski, Philip Lahm, atau Sebastian Schwansteiger masih dipandang sebagai “rising star” di usia mereka yang rata – rata 20an. I bet they will be great when they are 23 or 25. Jadi, saya setuju dengan Anda, Senor Carlo.

Mungkin ada pengecualian untuk Brazil… they’re extraterrestrial! Pato, Kaka, Robinho, Baptista, etc. Yah, apa boleh buat, di Brazil kan sepakbola sudah seperti agama. Trivia quiz, siapa presiden Brazil? Entah. Siapa menteri olahraga Brazil? Pele, eh sudah ganti belum sih? :p

Is That A Singing Contest?

Saya masih memegang prinsip saya bahwa pelaku hal – hal yang sampaikan sebagai hal buruk dalam blog ini harus diganti dengan variable samaran, sebaliknya pelaku “kebaikan” wajiblah disebutkan namanya. Kecuali jika suatu saat saya kelewat emosi. :D

Oleh karena itu, saya cukup menyebut reality show tersebut dengan X. X adalah sebuah contoh sempurna betapa acara televisi dapat merusak kehidupan. Kya kya, berlebihan ah. Tapi… please.., is that a singing contest?

Acara X berlangsung sejak jam 6 magrib dan berakhir…. yak, betul, pukul 12 malam! Sebenarnya, seandainya saja acara tersebut menyuguhkan sajian musik berkualitas saya pasti senang, karena berarti ada suguhan menarik selama… tunggu.. 6 jam? Ayolah, segala sesuatu, sekalipun yang baik, kan ada dosisnya. No, I don’t want to see a great music contest for six straight hours! Apalagi jika acara kontes musik yang sebenarnya tidak bermutu.

Ayolah, X lebih tampak seperti acara member komentar lucu dari para juri, eh apa sebutannya, juri bukan sih untuk ketiga tukang komentar itu? Ya, itulah. Bayangkan, lima menit menyanyi bisa ditimpali hampir setengah jam komentar! Ugh! Saya rasa kalau kelak RCTI harus menyewa ketiga orang ini untuk menjadi komentator siaran langsung Euro 2008. Karena, jika tiba – tiba terjadi kesalahan teknis dan siaran harus delay, para komentator ini sanggup koq memberi komentar tidak jelas sembari menunggu satu babak pertandingan sepakbola selesai. Dan tak usah, khawatir, nampaknya mereka cukup disukai para pemirsa.

Nah! Poin paling mengherankan dari keseluruhan reality show X ini: penggemarnya banyak! Asumtif sebenarnya, tapi… ayolah, Anda kan tidak akan memutar acara 6 jam sehari, 5 kali seminggu jika acara tersebut tidak disukai dan tidak mendatangkan banyak uang toh? Jadi… acara ini disukai? Sedemikian hingga sang produser dan stasiun televisi menayangkannya setiap hari sebanyak jumlah jam tidur yang direkomendasikan bagi orang dewasa sehat? Arghhhhhhhh….. our society is in problem! Masyarakat kita benar – benar kekurangan hiburan kalau begitu. Hfff.

Kalau dipikir – pikir, koq saya yang sewot? Ya, biar dong, blog saya! Hehe, merasa terganggu saja, sekian lama waktu siaran tersebut… rasanya tidak berharga deh. Apalagi mengingat sedang gencarnya imbauan untuk melakukan efisiensi energi demi mitigasi global warming*! Hey, ayo, matikan televisimu! Tak usah kau tonton acara tak berguna macam itu, hemat energi! Kekekekeke. I mean it, really.

* berdasarkan laporan, efisiensi energi di rumah tangga dapat mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 10%, hehe, oleh – oleh mengerjakan Imagine Cup nih

Kecil Kecil Belajar Jadi Preman

Sudah sejak lama saya menganut prinsip transaksional dalam berhadapan dengan pengamen. Intinya, tidak ada kasihan, pun tak ada umpatan. Dia jual, saya beli. Dia menyanyikan lagu yang enak, saya terhibur, ya saya beri uang. Tidak enak… ya sudah, Anda belum beruntung. Karena masalah pengamen dan anak jalanan ini memang selalu berada pada “moral gray area”. Ada yang bilang, jangan dikasih, sama saja dengan memelihara profesi mereka. Lebih baik diambil dan dididik saja. Entahlah, belum ada kemampuan untuk itu, jadi saya terus pada prinsip saya saja: transaksional. Lu jual, gw beli. No charity involved.

Tapi ada satu bentuk mengamen yang saya benciiiiiiii. It sounds like this:

“Seribu aja… seribu aja… se..ribu aja….”

Saya rasa jika Anda cukup gegabah untuk keluar berkendara di jalan Dago pada malam minggu tidak akan asing dengan syair lagu (jika kita bisa menyebutnya lagu) diatas. Biasanya dinyanyikan oleh sekelompok anak sekolah menengah atas dengan tujuan ngedanus.

Oke, kembali kita ke “moral gray area” untuk masalah ngedanus dengan mengamen. Pada akhirnya, saya kembali kepada prinsip transkasional tadi saja, jika ada yang mengamen, sekalipun sedang ngedanus, ya saya bayar jika saya merasa menikmati lagu yang dibawakan (tadinya mau saya tulis “dingameni” tapi jelas akan menunjukkan penggunaan tata bahasa yang ngawur). Jika saya tidak terhibur, maaf sobat.

Tetapi fenomena malam minggu di Dago adalah sebuah hal yang menyebalkan. Anak – anak sekolah ini akan terus berada di depan mobil Anda sambil menyanyikan (jika bisa disebut sebagai menyanyi) lagu tidak jelas itu dan sesekali bergerak tak karuan (uh, tak sampai hati saya menyebut kata “menari”, namanya peyorasi terhadap kata “menari” nanti). Hey, who do you think you’re kidding with?! Jika Anda tidak memberi seribu yang mereka tuntut, mereka tidak akan beranjak, mobil Anda tidak dapat bergerak, lalu lintas bertambah macet, dan mobil lain di sekeliling akan mulai membunyikan klaksonnya. Jadi, umumnya kita akan menyerah dan meberikan seribu tersebut dengan terpaksa.

Ugh! Itu namanya premanisme! Hehe. Ok, saya tidak benar – benar mencari tahu sih apa definisi KBBI tentang premanisme. Silakan Anda cari, kalau saya salah silakan protes, nanti saya cari kata lain lagi. :p Tapi… segerombolan orang memaksa orang lain menyerahkan uangnya, meskipun atas nama ngedanus, adalah bentuk pemalakan, adalah bentuk premanisme! Kecil – kecil belajar jadi preman!

Kreatif lah sedikit wahai teman. Buatlah musik yang menarik, yang menyenangkan, orang pasti akan simpati dan memberikan Anda “ganjaran” yang layak. Percaya atau tidak, dulu setiap kali saya makan siang di Gelap Nyawang sehabis Jumatan, selalu ada sekelompok pengamen cilik yang memainkan biola dan membawa lagu – lagu yang enak didengar. Favorit saya, Cinday! Saya lihat, gelas air mineral mereka selalu penuh dengan uang kertas ribuan atau bahkan lima ribuan. Audience just love them! Dan saya pun tak pernah ragu untuk “membayar” jasa menyanyi mereka.

“Cinday lah mana….,” ah, saya lupa syairnya!

From Stats Become Myths

Masih dalam suasana tahun baru, ada beberapa hal yang saya tidak suka dari perayaan tahun baru:
  1. Kembang Api dan Petasan
  2. Terompet
  3. Ramalan Mama Xxxx atau Ki Yyyyyy

Hehe. Entah apa negeri ini sedang krisis kepercayaan akan hal – hal rasional, atau karena stasiun televisi kurang kreatif, atau mendengarkan kebohongan sudah menjadi hiburan, tapi yang jelas… setiap kali tahun baru hampir seluruh stasiun televisi dan media massa lainnya menampilkan ramalan! Ramalan yang disajikan pun beragam, mulai dari ramalan gaya astrologi biasa hingga astrologi Cina, mulai dari paranormal tradisional macam Ki Sesuatu atau Mbah Sesuatu hingga pelamar “kontemporer” macam Mama Sesuatu atau Madam Sesuatu. Guess what? Those things make me sick!

Saya hanya punya satu hipotesis dengan dunia ramal meramal: that kind of things doesn’t exist! Kenapa? Karena jika saya sungguh – sungguh bisa meramal, percayalah, saya tidak akan membuka REG RAMALANBANGIQBAL untuk Anda! Um, lebih menarik jika saya ramalkan saja saham mana yang akan naik besok di Bursa Efek Jakarta. That way, I could earn much more money, I guess.

Jadi, pertanyaan besarnya, kenapa seseorang yang sanggup melihat masa depan harus repot – repot pasang iklan di berbagai media untuk “mencari sesuap nasi ” dengan kemampuan meramalnya? Jawaban saya, because they can’t foreseen anything, kecuali mungkin market research bahwa masyarakat kita masih gampang dikibuli. Ayolah, semua orang bisa membuat ramalan seperti:

“Akan ada sosok yang dulu disegani meninggal pada tahun 2008 ini”

Oh my God! That’s so stupid because...

  1. Setiap tahunnya ada banyak orang meninggal
  2. Tidak sedikit dari orang – orang yang meninggal setiap tahunnya adalah orang yang pernah disegani, terlepas berapa besar scope nya

Kalimat ini bisa lantas dirujuk sebagai “ramalan yang tepat” seumpama orang seperti Soeharto meninggal kelak. Atau mungkin Pak Habibie, atau mungkin Hidayat Nur Wahid (alm), atau mungkin.. come on the list goes on.. orang – orang yang dulu disegani dan memang sudah kian berumur tahun ini. It’s just a matter of time that death will come after them. What is a real thing? Kalau ada yang bisa mereamalkan siapa juara Euro 2008, siapa runner up nya, berapa skornya, siapa saja pencetak gol pada partai finalnya, dan pada menit berapa gol – gol tersebut terjadi! That is a real “prophecy”.

Lucunya, hal – hal berbau “klenik” ini justru lebih sering terjadi dalam cabang olahraga yang paling saya sukai, sang candu dunia modern, sang berhala abad 21: sepakbola! Dalam sepakbola, seringkali statistik berubah menjadi mistik. Maksud? Pernah dengar komentator di televisi berargumen seperti ini,

“Tapi bung, bukankah sudah 40 tahun ini Indonesia tidak pernah menang melawan Brazil di Rio de Jeneiro? Nampaknya akan sulit ya bung?”

Ok, lupakan kenyataan bahwa contoh diatas adalah contoh yang bodoh karena…:

  1. The fact, Indonesia tidak pernah bertemu Brazil memang
  2. Apalagi di Rio de Jenero
  3. Dan mungkin 40 tahun kedepan, timnas Brazil masih belum akan sudi mengundang PSSI ke Brazil…

That’s not my point. Tapi, sering kali data statistik justru dipercaya dan diperlakukan laksana “mitos”. Tifosi lantas senang berfantasi seperti, “Dulu dengan Trio Belanda Milan buas, sekarang dengan Trio Brazil Milan makin ganas!” And this example is for real, really. Bacalah rubrik suara tifosi di tabloid Bola misalnya.

Makanya, saat Juventus –tim kesayangan saya- akan bermain, saya menghindari membeli tabloid olahraga… karena nanti saya terlalu terbawa dengan mitos – mitos tak berdasar itu. Lagi pula, saya toh tak berniat berjudi, tak ada gunanya beragam prediksi itu! Lebih enak beli koran esok paginya, tentunya kalau Juve menang! :p

Tak Hanya Diam

Sesungguhnya, saya memiliki cukup banyak “target” untuk tahun 2008 ini. Tapi tidak semuanya saya tuliskan di blog tentunya. Yang saya tuliskan disini hanyalah hal – hal yang saya rasa ada baiknya jika di-share dengan banyak orang dan tidak menimbulkan image bahwa saya orang yang sangat eksibisionis dan ekstrovert. :D

Secara garis besar, saya berharap tahun ini saya Tak Hanya Diam. Maksudnya? Ya… tak hanya diam dalam banyak hal. Masa’ sudah hampir empat tahun berkuliah di IF ITB ga punya karya? Masa’ sudah hampir selesai kepengurusan HMIF tapi masih banyak hutang yang harus dikerjakan? Masa’ sudah setua ini belum juga punya gambaran masa depan? Masa’ jadi beraktivitas tapi ga punya integritas? Kira – kira, untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan tersebutlah saya tidak ingin hanya diam.

Rencana Besar

Um, selama empat tahun hampir saya menjadi seorang mahasiswa informatika, tapi rasanya minim sekali saya memiliki karya. Selama ini sebagian besar hal berbau informatika yang pernah saya kerjakan adalah tugas kuliah atau tugas rekrutmen lab. Diluar itu, hanya satu atau dua proyek kecil kecilan yang pernah saya kerjakan. Oleh karena itu, saya merasa, tahun ini saya harus membuat karya. Step yang paling dekat adalah Imagine Cup. Alhamdulillah, meskipun sebenarnya sudah cukup meleset dari jadwal yang diperkirakan hingga saat ini progress nya masih cukup baik. Tim saya, Rajawali, sebenarnya sudah punya target juga tapi demi menjaga ke-tidak-eksrovert-an saya maka targetnya apa tidak akan saya ungkap dulu disini. Yang jelas targetnya cukup besar, makanya saya beri tajuk “rencana besar”.

Selain itu saya juga menargetkan bisa menyelesaikan 3 side project tahun ini. Plus kalau bisa diakhir tahun bisa mendapatkan salah satu sertifikasi programmer yang diakui internasional seperti Sun Java Certified Programmer misalnya. Dan… ya, satu lagi, mulai bulan April harus mendapatkan kerja part time! Ayo semangat! Semester 9 harus mandiri!!!

Harmoni

Salah satu masalah besar para pelaku kemahasiswaan kampus ini adalah: integritas. Saya termasuk orang yang kacau untuk urusan ini. Tah pa pa! Iqbal Farabi yang berada di forum – forum ketua himpunan sangat berbeda dengan Iqbal Farabi yang ada di ruang kelas. Tak betul! Oleh karena itu, saya rasa saya harus menjaga harmoni antara apa – apa yang saya ucapkan dan yang saya perbuat, terutama dalam konteks saya sebagai seorang ketua himpunan. Oleh karena itu, tahun ini saya bertekad untuk belajar berintegritas…. . Pasti sulit, tapi harus bisa. Tah pa pa, paham segala macam tetek bengek tri darma perguran tinggi, peran fungsi posisi mahasiswa, dan segala macam konsep dewa itu kalau praktek di lapangannya nol! Ayo… belajar berintegritas, Bal!

Belum Terlambat

Yang satu ini tentang akademis. Walaupun akan terdengar seperti excuse, namun sungguh saya bukanlah penggemar sistem pendidikan ITB. Buku “Laskar Pelangi” dan “Orang Miskin Dilarang Sekolah” yang baru – baru ini say abaca menyadarkan saya satu hal: sekolah adalah barang mewah bagi sebagian besar rakyat Indonesia! Jadi… suka atau tidak suka, saya harus menjalani kewajiban akademis saya dengan baik, dalam artian berprestasi dan berkontribusi sesuai dengan bidang saya. Supaya tidak kufur nikmat. Oleh karena itu, semester ini saya bertekad untuk berprestasi dulu, baru nanti berkontribusi. Lha, piye, mau kontribusi gimana kalo ga punya ilmu? Jadi…, mari giat kuliah semester ini, belum terlambat!

Ketika Thariq bin Ziyad tiba di semenanjung Andalusia, para prajurit yang dipimpinnya takut melihat jumlah tentara yang menghadang. Thariq lantas membakar perahu – perahu yang merupakan satu – satunya sarana untuk melarikan diri dan mengeluarkan orasinya yang terkenal itu, “bla.. bla.. bla..”. Ok, saya lupa redaksi persisnya! :p Intinya, terjemahan bebas, di belakang tinggal laut, there is no escape. Di depan ada pasukan musuh, buanyaaaaaaaak. Mundur dan kamu akan mati percuma. Maju, mati dan raihlah kehormatanmu. Hasilnya? Sebagaimana yang kita ketahui dari sejarah, pasukan Thariq bin Ziyad berhasil menaklukan Andalusia. Dan… melalui resolusi yang saya publish secara terbuka di blog ini, saya sedang membakar perahu saya.

Tribute yang sebesar – besarnya bagi Padi atas judul album dan judul – judul lagunya yang saya gunakan dalam blog ini. Semoga tidak termasuk pelanggaran hak cipta. :)

“Semua perkataan yang menjatuhkan
tak lagi kudengar dengan sungguh
Serta tutur kata yang mencela
tak lagi kucerna dalam jiwa
Ku hanya pemimpi kecil
yang berangan tuk merubah nasibnya”

-dari “Sang Penghibur” oleh Padi dalam album “Tak Hanya Diam”-

Should We Really Celebrate New Year?

Baru – baru ini saya senang menonton serial “How I Met Your Mother”. Diluar kenyataan bahwa serial tersebut sangat tidak “ketimuran”, tapi serial ini sungguh lucu dan cukup “smart”. Dan… satu hal yang saya sangat senangi adalah, serial ini ternyata sepakat dengan saya dalam satu hal: New Year’s Eve sucks!

Karena itulah, suatu kali saya memasang status pada instant messenger saya: “should we really celebrate new year?”. Dan sebuah jawaban menarik datang dari seorang rekan,

“Ya nggak lah. Ngapain? Tapi…. ada bagusnya lho kita punya system penanggalan kaya’ gini, you could make new year as checkpoint to review and preview your life!”

Waha! Menarik sekali ini! Well…. Sebagai makhluk yang sangat dependen terhadap waktu, tentunya memang kita butuh patokan, checkpoint kalau kata teman saya. Sistem akademis saja menatapkan tanggal – tanggal tertentu untuk mereview pelaksanaan belajar mengajar (dalam bentuk UAS, UN, EBTANAS?). Perusahaan pun menetapakan waktu untuk membuat preview (dalm bentuk rencana anggaran bulanan, tahunan?). Mungkin saya juga harus mencobanya… .

Well… should thanks Astrid Dita so much for this thought. Demi kenyamanan pembacaan di blog dan demi membuat blog saya nampak banyak post, saya bagi saja preview tahunan saya pada post lain.

Hmm… sengaja saya ambil dari judul lagu Padi, untuk mengembalikan khittah blog ini sebagai blog yang bertajuk “Thoughts, Rhythm and Puzzle”… I’ve missed the rhythm for so long now. Dan jangan khawatir, Anda tidak akan menemukan diary online pada kedua post tersebut, semoga. :D . Masih mencoba memposisikan blog ini sebagai sarana berbagi ide dan pemikiran koq… . :)

Saturday, September 29, 2007

Satu Tahun

Sebenarnya saya bukan orang yang terlalu peduli dengan tanggal – tanggal. Menurut saya tidak ada itu tanggal baik atau tanggal buruk. Semua tanggal sama baiknya, sebagaimana semua tanggal juga sama buruknya, tergantung bagaimana kita menjalani hari di tanggal itu. Tidak ada tanggal cantik, toh saya juga tidak pernah jatuh cinta pada tanggal! -saya termasuk orang yang menganut “bukan tinta karena titik, tapi titik karena tinta”. apa tuh? cari sendiri deh! :p-

Oleh karena itu saya tidak pernah merayakan tanggal – tanggal secara khusus. Saya tidak pernah menyambut tahun baru secara istimewa. Apa istimewanya tanggal 1 Januari sih? Saya tidak pernah peduli dengan Hari Kartini maupun Hari Ibu, toh di hari lainnya saya juga seperti itu saja kepada ibu saya, tidak bertambah cinta saya hanya karena hari ini Hari Ibu, pun tidak meluntur cinta saya seandainya hari ini adalah Hari Anti-Ibu sedunia. Dan ulang tahun adalah salah satu konsep yang cukup mengganggu buat saya. Hey, bayangkan! Saya punya lebih dari 366 orang teman! Jika untuk membuktikan bahwa saya adalah teman yang baik maka saya harus mengingat ulang tahun mereka, memberi ucapan selamat, dan memberi kado, entah berapa kali dalam sehari saya harus memberi ucapan selamat ulang tahun kepada sekian banyak teman yang saya punya.

Tapi ternyata saya tidak bisa begitu saja lepas dari tanggal – tanggal itu. Sekitar tiga tahun lalu, beberapa bulan menjelang ulang tahunnya yang ketujuh belas, adik saya ultimatum, “awas lo kak kalo sampe ultah gw yang ketujuh belas lo ga inget lagi!” Demikian dua tahun kemudian si bungsu memberi ultimatum yang senada. Heran saya, apa istimewanya sih ulang tahun yang ketujuh belas? Katanya sih usia tujuh belas artinya sudah dewasa. Dewasa menurut apa? Lebih jauh lagi, dewasa itu apa? Tah! Bingung kan?

Lantas demi berlaku adil kepada Ibu (yang ternyata ulang tahunnya hanya berselang seminggu dengan si bungsu), jadilah saya juga memberi ucapan selamat kepada Ibu. Dan supaya Bapak tidak merasa dilupakan sendirian dan karena password laptop beliau adalah tanggal ulang tahunnya, jadilah saya berusaha menghafal juga ulang tahun beliau. Seterusnya semakin bertambahlah daftar orang – orang yang saya hafalkan ulang tahunnya. Tapi tetap saja tidak banyak.

Karena itulah, saya juga tidak ingat kapan tepatnya pertama kali blog ini 'diluncurkan'. Dan saya juga tidak ingin repot – repot mencari tahu (dari log di blogger misalnya) tanggal berapa tepatnya blog ini pertama kali mengudara. Hanya yang saya ingat, bulan September tahun lalu lah pertama kali ada posting di blog ini! Ya..., selagi masih bulan September: Happy Blogging Anniversary!

Setahun merupakan waktu yang sebentar untuk menulis. Dan tulisan saya dalam blog ini masih perlu banyak perbaikan. Karena pada dasarnya blog ini ditujukan untuk melakukan sharing pemikiran antara saya dengan siapapun yang tertarik untuk berbagi, pastinya banyak hal yang perlu saya perbaiki agar isi kepala saya bisa bertransformasi menjadi rangkaian kata, kalimat, paragraf dan tulisan utuh yang baik. Banyak hal yang harus diperbaiki agar siapapun yang membaca dapat dengan 'enjoy' ikut bersama penuturan saya melalui blog ini. Hehe.

Terakhir, karena bulan September ini secara misterius LAN card laptop saya mengalami kerusakan, saya jadi agak jarang online. Oleh karena itu, ada dua tulisan lain yang sudah saya buat yang diluncurkan juga sekarang. Mangga dilihat dua tulisan tersebut:

Liga Italia Spesial Ramadhan!

Beberapa malam lau, saya menyaksikan sebuah acara yang 'lucu' di salah satu stasiun televisi. Bukan, bukan... bukan acara lawak sesungguhnya. Dan sesungguhnya acara itu memang tidak dibuat untuk melucu. Tajuk acaranya kalau tidak salah ada selintas kata - kata 'Ramadhan Bersama XXX' (silakan isi variabel 'XXX' dengan salah satu merk rokok ya!).

Kira – kira bagaimana gambaran Anda mendengar tajuk 'Ramadhan Bersama'? Hmm, mungkin yang terbayang adalah acara sejenis pesantren kilat, atau mungkin taushiah, atau kultum? Ya, sejelek – jeleknya mungkin 'buka bersama' lah ya? Ups! Anda salah! Acaranya ternyata berupa konser band Padi.

Saya salah satu penggemar Padi, percayalah! Tidak fanatik sih, tapi saya hafal discography album mereka. Pun, karena jaman itu saya belum mengenal mp3 bajakan, saya memiliki semua album Padi. Saya suka dengan hampir seluruh lagu mereka, dari yang secadas 'Sobat' hingga se-mellow 'Kasih Tak Sampai'. Dan, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada band ini, saya tetap menganggap acara ini adalah acara yang lucu.

Kenapa?

Karena tidak ada 'nyambung'-nya sama sekali antara sebuah konser dengan momen Ramadhan! Tidak ada hubungannya antara lirik lagu, “Oo sobat, maafkan aku mencintainya” dengan spirit Ramadhan! Tidak ada korelasi logis antara moshing dengan semangat Ramadhan! Dan saya merasa sama sekali tidak melihat satu pun pesan tentang Ramadhan pada acara itu. Lebih baik buang saja embel – embel konser Ramdhan nya! I might enjoy the concert more without that 'Ramadhan things'.

Itulah! Dunia entertainment sekarang seringkali seenaknya memanfaatkan momen. Masih bagus kalau momen tersebut memang masih dimanfaatkan sewajarnya, dalam artian: acara yang dibuat memang sesuai dengan spirit dari momen yang dimanfaatkan. Sebagian besar stasiun televisi mengisi acara sahur dengan acara lawak. Lawak yang tanpa arah dan tanpa pesan sedikit pun! Kalaupun ada hal yang bisa saya ambil paling saya berterimakasih pada Komeng dan Adul yang membuat saya tidak mengantuk saat makan sahur. Stasiun televisi juga memberikan rangkaian sinetron spesial Ramadhan yang sebenarnya minim pesan Islamnya. Hanya paling para tokoh di sinetron tersebut sedikit lebih gemar berucap, 'astaghfirullah' dan 'alhamdulillah' serta di beberapa scene para pemeran wanitanya gemar menggunakan selendang (dan saya tidak melihat selendang sebagai alat untuk menutup aurat), selebihnya? Yang dibahas cinta lagi, cinta lagi!

Demikian, tidak hanya momen Ramadhan yang 'dimanfaatkan'. Momen – momen keagamaan lain pun seringkali dieksploitasi. Demikian juga momen kemerdekaan RI yang semarak diisi aneka ragam konser yang sama sekali tak mengusung nilai nasionalisme. Dasar televisi! Gemar mengkesploitasi momen! Sekarang ada 'Konser Bareng Ramadhan', 'Lawak Spesial Ramdhan', lama – lama mungkin ada 'Kontes Putri Indonesia Spesial Ramadhan! Semua saja pakai istilah spesial Ramadhan! Ga nyambung gapapa!

Tapi saya bersyukur sih masih ada pelaku dunia hiburan yang benar – benar berniat memberi 'sesuatu' untuk momen Ramadhan ini. Apresiasi yang besar saya berikan pada salah seorang idola saya, Deddy Mizwar, yang setia menghadirkan hiburan – hiburan bermutu dan sarat makna. Terhitung sejak dulu ada 'Lorong Waktu', 'Kiamat Sudah Dekat Serial TV', hingga sekarang ada 'Para Pencari Tuhan', Om Deddy masih konsisten dengan pesan – pesan moralnya. Salut buat si Om!

Oiya, terkahir, saya sama sekali tidak berniat menjelekkan citra Padi lho. I'm a fan of them! Dan bagaimana pun saya masih harus berterimakasih bagi para perusahaan rokok yang telah berperan serta dalam memiskinkan ekonomi dan kesehatan rakyat Indonesia dan meberikan 'kompensasi' tidak seimbang berupa mensponsori siaran konser serta siaran langsung liga sepakbola mancanegara. Sudah ah, saya mau nonton Liga Italia Spesial Ramadhan! Forza Juve! :)

Tuesday, August 28, 2007

Sumber Terbuka

Dulu sekali, saya pernah membaca sebuah artikel menarik tentang Bahasa Indoneisa di sebuah blog yang saya sudah lupa alamatnya. Beberapa waktu kemudian, mbak ini menulis hal serupa tapi kaitannya dengan musik disini. Akhirnya tadi malam, setelah membaca tulisan ini, saya membulatkan tekad untuk menuliskan apa yang sudah lama terpendam di kepala saya.

Semakin hari, telinga kita yang orang Indonesia ini semakin akrab dengan bahasa Inggris ya? Coba sesekali mainlah ke labtek lima. Gunakan lift untuk naik ke lantai empat. Di ujung kiri lorong, Anda akan menemukan lab tiga. Disanalah lab khusus bagi mahasiswa yang ingin menggunakan laptop. Kebanyakan mereka, bermodalkan koneksi kabel LAN ataupun wireless, sedang asik browsing, entah sekedar membaca email atau chatting. Tak sedikit pula yang menggunakan lab untuk bermain game online.

Hehe.

Kenapa ya? Bisa banyak alasan. Yang jelas, entah kenapa bahasa Inggris bisa membuat kata – kata yang sesungguhnya janggal jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi terdengar 'keren'. Contoh yang paling umum adalah di dunia musik dan film. Anda tidak terganggu kan dengan judul - judul lagu Linkin Park seperti “Crawling” atau ''Numb”. Coba bayangkan jika kita terjemahkan judul – judul tersebut menjadi “Merangkak” dan “Kaku”. Demikian pula dengan nama – nama band seperti “Funeral for a Friend”, “My Chemical Romance” atau “The Rolling Stones” yang tidak terasa janggal seperti “Pemakaman untuk Seorang Teman”, “Kisah Cintaku yang Berkimia' atau “Batu Bergulir”. Untuk film saya ingin ambil contoh “Original Sin”, jika diterjemahkan jadi “Dosa Asli”, seperti judul film – film murah tak berkelas macam “Ranjang Ternoda” atau “Gairah Membara” saja.

Mungkin itu sebabnya para penyiar radio di stasiun radio yang 'gaul' gemar berbahasa Inggris. Menurut saya, salah satu karir menarik bagi mereka jika pensiun dari profesi penyiarnya adalah menjadi pengajar bahasa Inggris. Terbayang percakapan seperti ini, “Ok class, let's move on to next chapter! This one great chapter is from Stroustroup with The Art of Programming! Check this out!”

Makanya saya senang dan bangga sekali dengan tema OSKM 2004 yang saya ikuti dulu. Indonesia banget lah. Peserta dipanggil sebagai “Satria” dan “Srikandi”, lantas panitia disebut dengan “Kawula”. Ada Kawula Rahwana (amarah membawa bencana), Kawula Mandala (aman dan lancar), Kawula Husada, dan Kawula Punggawa (dua yang terakhir saya lupa kepanjangannya). Tema terbagus yang pernah ada di OSKM, saya rasa. Saya iri pada orang – orang yang bisa membuat terminologi bahasa Indonesia yang menarik.... .

Diluar hal itu, menurut saya memang adakalanya bahasa Inggris tidak bisa digantikan. Dalam bidang keilmuan yang sedang saya pelajari misalnya. Jangan minta saya terjemahkan kata “microcontroller” ya. Micro artinya kecil, controller artinya pengatur. Jika microcontroller saya terjemahkan sebagai pengatur kecil, jadi salah dong. Jika diterjemahkan balik bisa – bisa jadi “little manager”. Jika saya terjemahkan sebagai pengatur yang kecil – kecil, ah, susah pula. Biarlah dia tetap kita sebut sebagai “microcontroller” ya.

Jadi rasanya saya tetap harus menginstall beragam library pendukung yang open source agar aplikasi yang saya kerjakan bisa segera selesai dengan bantuan API yang disediakan. Kan sulit jika saya harus menanam (sebagai terjemahan kata install?) beragam perpustakaan (sebagai terjemahan library?) yang sumber terbuka (sebagai terjemahan kata open source). Hehe.

Sudah dulu ah, postingan kali ini sudah cukup panjang rasanya. Oiya, tulisan ini juga saya repost disini. :D

Thursday, August 23, 2007

Yang Penting: Passion!

Akhirnya posting lagi. Ternyata dua bulan terakhir, frekuensi saya menulis di blog ini dan blog yang satunya lagi sangat menurun.

Sekarang sudah hari keempat sejak kuliah semester ganjil berjalan. Akhirnya saya sudah memilih mata kuliah apa saja yang ingin saya pelajari semester ini. Sejauh ini ternyata semuanya mata kuliah yang banyak peminat. Semua mata kuliah yang saya ambil, jumlah pesertanya lebih dari 40 orang. Yang terparah adalah Maninov: 413 peserta! Nampaknya reputasi pak Gede Rake memang sangat luar biasa. Tapi, diantara semua mata kuliah yang saya ikuti sejauh ini, yang paling menarik adalah: DK2148, Tinjauan Huruf. Kenapa? Hmm..., mari kita mulai.

Pagi ini rasanya pertama kalinya sejak berkuliah di ITB saya menjejakkan kaki di wilayah FSRD selain lapangan dan parkir SR. Rasanya gugup. Hehe. Berasa seperti murid pindahan di hari pertama sekolah (walaupun sebenarnya saya tidak pernah sih merasakan jadi murid pindahan). Dan ya, memang suasananya berbeda ternyata di daerah sana. Lebih... apa ya... tak terawat mungkin. Apalagi jika dibandingkan dengan labtek V. Yah, mungkin memang begitu penghuninya, agak cuek dan eksentrik. Mungkin.

Ya, meskipun setelah masuk kuliah beberapa lama, SR yang selama ini hanya saya andai - andaikan sebagai daerah nyentrik ternyata tidak seajaib yang ada di benak saya. Well, setidaknya tidak sampai lihat ada yang memakai jubah sihir dan membawa sapu (emangnya SR itu Hogwarts apa?). Ada sih beberapa hal yang unik seperti:
  • Tidak ada kursi bertangan, khas ruang kuliah, di ruang kelas DKV 2 tadi. Yang ada justru meja - meja beralaskan kertas milimeter block yang dilapisi plastik transparan supaya waterproof. Mungkin minggu depan saya coba ambil screen shot ruang kelasnya.
  • Peralatan kuliah saya sekarang jadi bertambah: kuas nomor 10, pensil berbentuk pipih, kuas 1 inchi, dan cat poster. Haha!
  • Praktikum dengan perintah: "ayo, silakan corat coret kertas koran yang kalian bawa... terserah, coret apa aja.... ."
Diluar sedikit hal tadi, ada sebuah pengalaman menarik yang saya dapat. Bila biasanya para pengajar memberi wejangan seperti, "yang penting belajar itu work hard" atau "yang penting belajar itu work smart" atau yang senada dengan itu, maka tadi saya mendapat wejangan yang berbeda dari pengajar mata kuliah Tinjauan Huruf (duh, masih belum hafal namanya nih). Beliau bilang, "belajar itu yang penting passion-nya!" Hehe! Ya, ternyata memang ada cara pandang yang berbeda ya... . Passion! Hwehehehe.

Friday, August 03, 2007

Mercato pribadi dimulai!!

Mercato alias masa transfer adalah momen yang sangat penting bagi seluruh klub. Salah strategi transfer bisa berakibat fatal bagi perjalanan klub selama satu musim ke depan, dan mungkin selamanya. Lantas apa hubungannya 'mercato' dengan label 'seputar perkuliahan' dong?

Nah, di bulan ini, pertama kalinya sejak saya mencicipi bangku akademis, saya akan punya kesempatan untuk memilih mau mengambil mata kuliah apa! Oh yeah... aroma kebebasan merasuki saya! Rasanya seperti sedang musim mercato kalau lagi main Football Manager.

Semua orang tentu punya strategi mercato sendiri dalam memilih mata kuliah di semester tujuh ini. Ada beragam alasan untuk memilih mata kuliah, seperti:

- Kejar paket A

Tentu sudah sering terdengar kabar bahwa ada beberapa mata kuliah sangat 'generous' dalam memberikan nilai. Untuk mereka yang beraliran 'realis' mungkin akan lebih memilih mata kuliah yang pada tahun2 sebelumnya saat pengumuman nilai hanya terdapat dua jenis indeks: A dan B. Siapa yang tidak tergiur?

- Suka dengan mata kuliah lab tertentu

Ya, tentu ada kecenderungan juga terhadap lab tertentu kan... . Saya sendiri menyenangi pelajaran yang datang dari lab GAIB, meskipun nilai2 saya di mata kuliah2 tersebut tidak bagus. Ada juga yang menyenangi mata kuliah dari lab Basis Data, dari lab SI, dan lain lain. Prediksi saya, akan ada sebuah lab yang mata kuliahnya sepi peminat..., yaitu.. lab.. S***r, ups! Sebut merk... :p

- Melihat dunia luas

Selama kurang lebih dua tahun belakangan, nampaknya habitat bermain mahasiswa IF tidak jauh dari ruang 7602 dan 7606. Rasanya sih hanya ada beberapa mata kuliah yang mengizinkan kita melihat dunia luar: Agama, Manajemen Industri, PPKN, what else? Kuliah pilihan adalah kesempatan! Dari status2 instant messenger akhir2 ini, mata kuliah Manajemen Inovasi nampaknya menjadi favorit. Entah apapun alasannya.

- Kecenderungan terhadap dosen tertentu

Ada apa ya? Entah sih, tapi yang jelas alasan saya memilih mengambil mata kuliah Manajemen Inovasi adalah demi bisa diajar oleh Pak Gede Rake. Kalau bukan beliau yang mengajar, I'll consider to drop this subject.

Oiya, kecenderungan ini juga bisa berarti kecenderungan menghindari lho. Kalau saya sih memang ada nama tertentu yang saya hindari..., tapi tak usah disebutkan di tempat public begini lah ya... .

- Orientasi jauh kedepan

Bisa macam2. Bisa demi mendukung pengerjaan TA. Bisa demi mendukung karir kedepannya -wow! ada ya yang udah mikir segitu? pasti ada sih, yakin-. Bisa demi memudahkan jodoh dan melanggengkan rumah tangga masa depan... Plok! Emang mata kuliah apa coba yang bisa mendukung kaya beginian?!

- Lain lain

Ya, lain lain aja. Banyak lah alasan orang memilih mata kuliah, should I write it all?

Ok, sekarang... saya sendiri masih bingung mau memilih mata kuliah apa. Satu yang pasti jelas: Maninov. Semoga masih Pak Gede Rake yang mengajar. Tendensi ke lab GAIB membuat saya tertarik dengan Sistem Berbasis Pengetahuan. KP pasti diambil. Lalu lalu? Machine Learning, mata kuliah lab GAIB lainnya, nampaknya menarik. Aplikasi Perancangan Berorientasi Objek nampaknya juga. Berapa sks sudah ya? Baru 14 sks. Sebenarnya sih sudah sejak lama saya memendam hasrat untuk mengambil mata kuliah SR: Tipografi. Serius. Bukan karena berharap bisa bertemu dengan lebih banyak makhluk tak berjakun di kelas, lho. I'm not that shallow! I'm just quite fond of art and I find that this 'tipografi' thing may be useful in my field. Steve Jobs once took this subject when he was in college and it is often believed that the early Apple had better fonts because of Steve's experiences on this subject. Tapi nampaknya sulit, khawatir banyak skill dasar yang harus dimiliki untuk bisa survive di mata kuliah ini.

Hmm, apalagi ya? Tiga sks lagi?? Yang jelas bukan TA1. Hehe. Itu nanti saja, di semester 9. Saya berencana lulus Maret 2009. :D

Apa dong?? Ya, nanti lagi lah dipikirkan, toh masih ada beberapa hari untuk berpikir. Santai saja, tidak perlu terburu2. Yang terpenting adalah mengambil pilihan yang bisa saya pertanggung jawabkan. Ini pertama kalinya saya ambil mata kuliah atas keinginan sendiri, jadi tidak boleh ada lagi di semester depan kalimat seperti ini, "I hate this subject!"

Pilih sendiri, tanggung jawab sendiri!

Sunday, July 15, 2007

We fought bravely!*

Ini tentang pertandingan Indonesia vs Saudi Arabia.

Saya memang bukan pesepakbola, sekedar ikut2 main bola saja sih sering. Saya bukan pula seorang ahli taktik, pengalaman melatih saya hanya di Football Manager. Saya hanya seorang penggemar yang ingin menunjukkan apresiasi kepada timnas Indonesia. Oleh karena itu, maaf2 dulu nih kalau sedikit 'uraian' saya ini ternyata agak2 ngawur. Ampun..., saya cuma orang awam. Ampun bang, punten a, ampun mas... . :p

Kita** kalah memang, tapi kekalahan itu tidak membuat saya berkecil hati. Sedih? Jelas. Bagaimana tidak sedih jika tim yang dibela kebobolan di menit terakhir. Tapi saya bangga dengan permainan yang ditunjukkan oleh pemain2 timnas. Kita kalah sih, tapi kita bermain bagus, rapi, dan yang paling penting: penuh determinasi.

Selama hampir sembilan puluh menit, para pemain menunjukkan determinasi yang luar biasa: ngotot. Syamsul Chairudin dan Firman Utina tampil all out. Gol Elie Aiboy merupakan bukti betapa ngototnya Syamsul bermain. Dalam kondisi nyaris jatuh, Syamsul masih sempat memberikan assist yang akhirnya diselesaikan dengan tenang oleh Elie, sekaligus membayar kegagalannya melakukan rebound terhadap tendangan Budi Sudarsono di menit2 awal babak pertama.

Saya hanya bisa mengungkap sekelumit*** statistik saja. Shoot on goal kita tidak sedikit. Begitu pula percobaan tembakan yang meleset. Penguasaan bola semakin meningkat, dari 36 – 64 di awal babak pertama hingga 43 – 57 di akhir pertandingan. Memang timnas masih banyak melakukan 'pelanggaran yang tidak perlu' (and one of those turns to a free kick that costs us our lose), namun kepemimpinan wasit pada pertandingan tadi pun menurut saya perlu dipertanyakan.

Akhirnya masalah fisik pula lah yang 'mengalahkan' timnas. Menit2 terakhir pemain2 sudah kehabisan stamina (meskipun masih menunjukkan determinasi yang tinggi). Dua gol yang kita terima pun lahir dari heading dan kita memang 'kalah postur' dalam hal ini (meskipun masih dibantah, “makanya.. marking yang bener!”).

Saya tidak ingin lebih lanjut menyaingi tabloid2 olahraga, karena kalau harus saingan jelas mereka menang: mereka sudah bertahun2 membuat tulisan tentang penampilan para pemain, jalannya pertandingan, dan lainnya. Makanya, saya cukupkan pembahasan soal segala tetek bengek yang berbau 'analisis pertandingan'.

Saya hanya ingin katakan: saya bangga dengan permainan timnas saat melawan Saudi Arabia. Saya bangga bahwa kita ternyata bisa meladeni tim dengan level piala dunia. Saya bangga bahwa juara tiga kali Piala Asia ini butuh waktu hingga menit akhir untuk membuat gol penentu. Saya bangga bahwa pemain2 timnas bermain ngotot dengan segala kelebihan dan kekurangan yang mereka punya selama nyaris 90 menit pertandingan. Saya masih bisa bilang, “lo ga bisa gampang disini, ini kandang kita!”

Piala Asia 2007 belum berakhir buat kita. Kamis nanti kita melawan Korea Selatan, tim dengan kualitas piala dunia juga (prestasi terhebat Korea Selatan: semifinalis piala dunia!). Melawan mereka tidak akan mudah, tapi mereka juga bukan untuk ditakuti. Ayo timnas, fight bravely! So even if we should lose in the field we don't lose our honor. So even if we should lose in the field, I will still be able to say, “we fought bravely!!”****

--

* sebenarnya saya sebisa mungkin menghindari penggunaan bahasa asing untuk tulisan yang ini, tapi sulit menemukan kalimat yang sepadan dalam bahasa Indonesia untuk membuat kalimat ini tidak terkesan 'corny'

** kata 'kita' dalam tulisan ini sebagian besar digunakan sebagai ungkapan pars pro toto lho...

*** ceile! bahasanya... 'sekelumit' :p

**** alasan yang sama dengan *

***** saya jadi optimis dengan perkembangan sepakbola Indonesia nih melihat perkembangan timnas sekarang, ayo maju terus timnas!!