Saturday, February 09, 2008

Kecil Kecil Belajar Jadi Preman

Sudah sejak lama saya menganut prinsip transaksional dalam berhadapan dengan pengamen. Intinya, tidak ada kasihan, pun tak ada umpatan. Dia jual, saya beli. Dia menyanyikan lagu yang enak, saya terhibur, ya saya beri uang. Tidak enak… ya sudah, Anda belum beruntung. Karena masalah pengamen dan anak jalanan ini memang selalu berada pada “moral gray area”. Ada yang bilang, jangan dikasih, sama saja dengan memelihara profesi mereka. Lebih baik diambil dan dididik saja. Entahlah, belum ada kemampuan untuk itu, jadi saya terus pada prinsip saya saja: transaksional. Lu jual, gw beli. No charity involved.

Tapi ada satu bentuk mengamen yang saya benciiiiiiii. It sounds like this:

“Seribu aja… seribu aja… se..ribu aja….”

Saya rasa jika Anda cukup gegabah untuk keluar berkendara di jalan Dago pada malam minggu tidak akan asing dengan syair lagu (jika kita bisa menyebutnya lagu) diatas. Biasanya dinyanyikan oleh sekelompok anak sekolah menengah atas dengan tujuan ngedanus.

Oke, kembali kita ke “moral gray area” untuk masalah ngedanus dengan mengamen. Pada akhirnya, saya kembali kepada prinsip transkasional tadi saja, jika ada yang mengamen, sekalipun sedang ngedanus, ya saya bayar jika saya merasa menikmati lagu yang dibawakan (tadinya mau saya tulis “dingameni” tapi jelas akan menunjukkan penggunaan tata bahasa yang ngawur). Jika saya tidak terhibur, maaf sobat.

Tetapi fenomena malam minggu di Dago adalah sebuah hal yang menyebalkan. Anak – anak sekolah ini akan terus berada di depan mobil Anda sambil menyanyikan (jika bisa disebut sebagai menyanyi) lagu tidak jelas itu dan sesekali bergerak tak karuan (uh, tak sampai hati saya menyebut kata “menari”, namanya peyorasi terhadap kata “menari” nanti). Hey, who do you think you’re kidding with?! Jika Anda tidak memberi seribu yang mereka tuntut, mereka tidak akan beranjak, mobil Anda tidak dapat bergerak, lalu lintas bertambah macet, dan mobil lain di sekeliling akan mulai membunyikan klaksonnya. Jadi, umumnya kita akan menyerah dan meberikan seribu tersebut dengan terpaksa.

Ugh! Itu namanya premanisme! Hehe. Ok, saya tidak benar – benar mencari tahu sih apa definisi KBBI tentang premanisme. Silakan Anda cari, kalau saya salah silakan protes, nanti saya cari kata lain lagi. :p Tapi… segerombolan orang memaksa orang lain menyerahkan uangnya, meskipun atas nama ngedanus, adalah bentuk pemalakan, adalah bentuk premanisme! Kecil – kecil belajar jadi preman!

Kreatif lah sedikit wahai teman. Buatlah musik yang menarik, yang menyenangkan, orang pasti akan simpati dan memberikan Anda “ganjaran” yang layak. Percaya atau tidak, dulu setiap kali saya makan siang di Gelap Nyawang sehabis Jumatan, selalu ada sekelompok pengamen cilik yang memainkan biola dan membawa lagu – lagu yang enak didengar. Favorit saya, Cinday! Saya lihat, gelas air mineral mereka selalu penuh dengan uang kertas ribuan atau bahkan lima ribuan. Audience just love them! Dan saya pun tak pernah ragu untuk “membayar” jasa menyanyi mereka.

“Cinday lah mana….,” ah, saya lupa syairnya!

3 comments:

Zakka Fauzan Muhammad said...

Kalo saya sih, syaratnya lebih banyak bal...

1. Lagunya harus enak didenger
2. Yang mendendangkan lagu (halah, dendang) tidak boleh merokok (seenggaknya tidak terlihat ada batang rokok di genggamannya / disekitarnya)

2 syarat itu harus dipenuhi untuk mendapatkan "bantuan" saya. Tapi tidak berarti "bantuan" akan selalu datang jika kedua syarat tersebut dipenuhi (ngerti maksudnya kan ya?)

Dennis Affandi said...

Wah, gw sering nih jadi korban "didanusi" (if I may call that), biasanya ambil kiri aja biar ga kena. Well, gw sih masih menanggapinya dengan santai, kadang lucu, tapi ga tau ya bagi warga Bandung mungkin udah fed up kali.

Muhammad Rizqy Anandhika said...

bner bal norak bgt tu..beda bgt lah klo kahim yg ngomong,hee..gw jg kesel sm yg seribu-sja-seribu aja...atau pacarnya-cantik-pacarnya-cantik..huek