Friday, September 29, 2006

Kaderisasi, Himpie, tentang Pilihan dan Keterpaksaan (2)

Oke, setelah sempat tertunda kemaren, sekarang gw punya waktu yg sedikit luang lagi buat ngelanjutin tulisan soal kaderisasi ntu. Sama juga dengan kemaren, bahasa yang akan gw gunakan dalam paragraf berikut-berikutnya akan lebih formal karena rasanya emang bahasa formal yang lebih natural buat ngomongin hal-hal kaya gitu.

Pada catatan sebelumnya telah saya sedikit ulas mengenai mengapa kaderisasi penting untuk keberlangsungan hidup suatu himpunan yakni karena kebutuhan akan sumberdaya. Maka pada catatan ini saya akan lebih mengulas aspek lainnya.

Nilai penting kaderisasi yang lain adalah kebutuhan akan penurunan nilai. Terdengar utopis mungkin tapi memang begitulah adanya. Pada tiap society, apapun bentuknya, selalu terdapat nilai yang dipegang oleh komunitas tersebut. Jangankan sebuah himpunan yang proses pembentukannya harus melalui pembuatan AD/ART yang rumit, geng nongkrong saja punya nilai tertentu yang mereka pegang. Terlepas dari apakah nilai-nilai yang dipegang oleh suatu komunitas salah atau benar, sebuah komunitas pasti hanya akan menganggap seseorang menjadi bagian dari komunitasnya hanya jika seseorang tadi juga memegang nilai-nilai yang sama dengan komunitas tersebut.

Demikian dengan himpunan-himpunan, penurunan nilai-nilai yang telah lama dimiliki oleh tiap-tiap himpunan adalah warna dasar dari sebuah kaderisasi. Katakanlah pada HMM, sebagai orang luar saya melihat kaderisasi HMM sangat ingin menanmkan 'Solidarity Forever' mereka. -pada HMIF bagaimana ya? apa yang selama ini sebenarnya ingin kita tanamkan?-

Oleh karena itu, bila bentuk kaderisasi yang terlihat secara kasat mata oleh pihak luar (baca: rektorat) dinilai sedang mengajarkan nilai-nilai yang salah, maka sesungguhnya bukan kaderisasi lah yang harus dilarang namun nilai-nilai dalam kehidupan himpunan lah yang mesti ditinjau. Bisa saja saat kita dari luar menilai suatu bentuk adalah salah namun saat kita meninjau nilai yang ingin ditanamkan dengan bentuk itu maka kita menganggap bentuk tadi menjadi benar -bukan tidak mungkin juga tetap salah-.

Bila nilai-nilai yang ingin diturunkan dalam proses kaderisasi sudah benar -atau haruskah saya gunakan kata 'baik' saja?- maka metode penurunan nilai-nilai tadi yang harus dibenahi. Tujuannya jelas: agar nilai-nilai yang ingin diturunkan benar-benar terserap. Kendala utama biasanya ada disini. Entah karena kita (baca: himpunan-himpunan selaku penyelenggara kaderisasi) yang tidak kreatif atau karena memang metode seperti yang selama ini kita kenal lah yang paling efektif, kenyataannya kita memang masih terpaku pada metode-metode yang telah bertahun-tahun diterapkan di kampus ini. Terpaku dalam artian mungkin saja metode lapangan sudah tidak digunakan namun tetap saja dalam hati terasa ada yang 'kurang' tanpa metode lapangan.

Tapi rasanya kita harus beranjak. Setidaknya, saya harus beranjak. Metode baru harus ditemukan. Apakah lantas saya dianggap terbawa arus? Terserah! Bagi saya yang lebih penting adalah nilai bukan bentuk. Untuk mempertahankan nilai, adaptasi terhadap bentuk itu perlu. Apakah lantas saya dianggap tidak punya independensi sebagai mahasiswa? Terserah! Memang saya belum sepenuhnya merdeka! Hidup saja masih dibiayai orang tua! Himpunan juga masih minta duit dari prodi, sekolah, rektorat. Apakah berarti saya tidak punya idealisme? Dalam batas pemahaman saya tentang 'idealisme', saya punya! Tetapi tidak untuk dipaparkan, setidaknya untuk saat ini.

Hmm.. ternyata melebar cukup jauh tulisan ini. Yah.. semoga dapat menjadi catatan yang baik dan memberikan pengaruh baik bagi yang membacanya, entah sependapat atau tidak sependapat dengan catatan ini.

Thursday, September 28, 2006

Kaderisasi, Himpie, tentang Pilihan dan Keterpaksaan (1)

Hmm... menjelang kumpul PSDA, mesti nunggu dari jam stengah empat sampe ntar jam 5. Lupa bawa Quran pula! Ding! Jadi ga bisa tilawah deh. Mendingan, blogging dulu! -ada ga ya sebenernya istilah blogging ini-


Oke, pada catatan kali ini saya berusaha berbahasa lebih formal karena rasanya topik yang saya usung kali ini memang lebih mudah dicerna dalam bahasa yang sedikit kaku seperti ini. Kaku memang, tapi lebih terstruktur tentunya.

Akhir-akhir ini beberapa teman terdekat dan ter-peduli dengan PSDA selalu menanyakan, "Bel, gimana kaderisasi 2006? " atau "Bel, gimana nih kaderisasi berjenjang??" dan pertanyaan lain yang senada. Memang, belakangan ini kebutuhan akan adanya konsep yang lebih jelas dan lebih baru tentang kaderisasi di HMIF khususnya dan di ITB umumnya dirasa semakin mendesak. Terutama karena kebijakan rektorat yang dianggap mahasiswa sangat represif terhadap makhluk super ajaib bernama 'kaderisasi' ini.

Dengan tulisan ini saya tidak sedang ingin mengatakan bahwa rektorat anti himpunan. Namun memang harapan yang diinginkan pihak rektorat saat ini akan bagaimana seharusnya aktivitas himpunan memang belum dapat dipenuhi oleh himpunan-himpunan.

Secara garis besar saya menangkap bahwa pihak rektorat menginginkan agar organisasi-organisasi kemahasiswaan menjadi wadah yang produktif (atau setidaknya begitu yang saya tangkap dari hasil pembicaraan Ivan Sugi dan Pak Widyo). Entah produktivitas itu berupa hasil riset kah, kegiatan keprofesian kah, dll. Sampai titik ini saya setuju! Memang sudah bukan saatnya lagi kegiatan himpunan hanya sekedar wisudaan dan tawuran wisudaan! (dan amat disayangkan kultur di beberapa himpunan setidaknya hingga saat saya masih TPB masih memberi kesan seperti ini kepada pihak-pihak yang melihat dari luar)

Namun ada yang terlupakan oleh pihak rektorat. Tidak mungkin himpunan-himpunan mengadakan aktivitas-aktivitas produksi tanpa adanya SDM alias anggota alias kader! Dengan kata lain, kaderisasi mutlak diperlukan.

Secara kultural, himpunan berbeda dengan unit-unit kegiatan mahasiswa. Orang berkumpul dalam unit karena kesenangan mereka akan sesuatu hal. Misal, sesama pebasket membentuk unit basket, sesama orang minang membuat unit minang, dan 'sesama'-'sesama' yang lain. Dengan kata lain, saat seseorang menjadi anggota suatu unit, maka keanggotaannya dapat dikatakan murni atas keinginannya sendiri.

Lain halnya dengan keanggotaan seseorang dalam himpunan. Seorang mahasiswa Teknik Elektro misalnya, terpaksa hanya bisa menjadi anggota HME, dan tidak akan mungkin menjadi anggota HMIF. Keanggotaan sesorang di himpunan juga belum tentu murni atas keinginannya sendiri. Katakanlah untuk mengamankan keberadaannya di lingkungan jurusan. Katakanlah karena sebagian besar teman sejurusan ikut himpunan. Beragam faktor luar bisa menjadi alasan seseorang untuk menjadi anggota himpunan. Dengan keadaan ini, himpunan harus berpikir lebih keras untuk membuat keterpaksaan anggota-anggotanya tadi menjadi 'kecintaan'. Atau jika terminologi 'kecintaan' tadi terlalu berat, katakanlah begini: himpunan harus mencari cara agar anggotanya merasa memiliki himpunan tersebut.

Karena hanya dengan anggota-anggota yang merasa memiliki himpunanlah, sebuah himpunan bisa hidup, bisa beraktivitas, bisa mengadakan seminar, bisa membuat acara kekeluargaan, bisa membuat tutorial matakuliah, bisa mengadakan riset.... -wow!- dll.

Walah... belum kelar nih, tapi pak duktek dah dateng. Dah dulu lah.

Tuesday, September 19, 2006

Jazztival

Hari minggu lalu gw dateng ke sebuah acara Jazz bertajuk 'Jazztival'. Sebenernya si gw bukan pecinta Jazz, no, not at all. Paling cuma segelintir musisi Jazz yg gw tau, dan dari segelintir itu juga lebih segelintir lagi yang musiknya pernah gw denger dan lebih sedikit lagi yg musiknya bisa gw nikmatin. Hehe. Yah, emang bukan musik yg easy-listening sih.

Sebenernya si gw dateng repot2 cuman demi liat 4peniti lagi. Gw terlalu terkesan banget sama penampilan mereka di CC minggu lalu. Jadilah gw berangkat bareng Yovan dan Dedex. Tapi ternyata gw ga nyesel dateng kesana. Tempatnya pe-we abis!! Kaya disuguhin suasana resort-hotel gitu.. Penonton digiring untuk berpindah-pindah dari spot satu ke spot lain karena performance-nya emang ga cuma di satu stage aja. Pas banget buat nikmatin taman Bumi Sangkurian yg cozy ini. Seperti lagi pesta taman lah suasananya. Duh.. coba gw ngajak..... . :)

Dateng jam 5 sore, akhirnya gw dapet jg klimaks yg gw mau: 4peniti! Meski diawal agak terganggu dengan penampilan super garing dari sekumpulan mahasiswa norak dan tidak lucu yang entah kenapa diundang panitia buat ngisi acara, tetep aja penampilan 4peniti malem itu keren abis. Start dengan lagu pembuat jatuh cinta 'Tiada', atensi penonton langsung tersedot. Tentunya. Then it goes..., song by song... . Ah, gw rasa semua orang harusnya denger lagu2nya 4peniti lah!

Mocca yang dengan kapasitasnya sebagai musisi yg udah punya rekaman di major label aja kalah penampilannya sama 4peniti. Subjektif sih. Ya, masih selamet lah dengan adanya Arina yg lucu dan kekanak2an dan lagu2 Mocca yg emang easy listening.

Um..., kayanya next time ada acara di Bumi Sangkuriang, gw bakal dateng deh. Sebisa mungkin ngajak2... . Hehe. Dan kayanya kalo secara ga sengaja lo dapet mp3-nya 4 peniti, lo harus denger tuh! Keren abis! You'll be fall in love with them.

Thursday, September 14, 2006

Ketika Azman menikah....

Ya, yg jelas si anak2 IF 2004 pada heboh. Entah membuktikan bahwa kita emang kompak, atau karena untuk pertama kalinya punya temen nikah, atau mau show off pake batik -gyaha-, yang jelas sekitar 110 orang IF2004++ nyempet2in pergi ke Sukabumi buat menghadiri nikahannya Azman.

Um.. itu kan pas hari H. Sebenernya yg lebih kebawa2 di pikiran gw tuh justru kejadian2 sebelum hari H. Apa tuh? Yah... gimana di forum2, obrolan2 ringan, dan gosip2 saat makan siang, pembicaraan kita tuh semua ya ga jauh2 dari nikahannya Azman.

Dalam suatu makan siang di kantin Bengkok, bareng Ibu Upik, Nitia dan Fitra, kita lagi2 membicarakan nikahan Azman. Sampailah pada satu pertanyaan, "kalo lo, kapan mau nikah?" Jeding! Sedap! Barulah gw tersadar bahwa gw sudah T U A !! Argh... .

Ok, jawaban dari pertanyaan diatas kurang penting: umur 24 paling lama. Yang signifikan disini adalah kenyataan bahwa gw harusnya udah dewasa dan siap untuk jadi mandiri. Gw udah 20 nih! Tapi tetep aja gw ga bakal makan sebulan kalo tiba2 saat ini ortu memutus subsidi ke gw -agak hiperbola sih, tapi itulah seninya ngemeng- . Hmm... kondisi yg cukup payah mengingat sebagian besar orang2 hebat tuh udah jadi sesuatu di masa mudanya. Khalid bin Walid misal, jadi panglima perang di usia 17 tahun. Lionel Messi misal, umurnya baru 19 bo! Argh... . Iqbal Farabi, umur 20, siapalah yg kenal??

Dulu waktu kecil, kalo gw liat di TV ada pemain bola hebat, gw suka bilang, "Ntar kalo udah gede gw jg masuk tipi". Gampang sih kalo mau masuk TV, yah... jadi bencong aja, trus curhat deh di acara 'kejamnya dunia' atau ikutan casting pemeran pembantu di sinema2 mistis aja -nampaknya ga perlu kemampuan akting yg memadai untuk lulus-. Tapi poinnya bukan disitu. Gw dulu berpikiran kalo gw dah gede, gw bakal bikin hal yg spekatkuler! Tapi berhubung masi anak2, yg spektakuler di mata gw waktu itu kan cuman kalo bisa masuk TV.

Nyatanya, sekarang ternyata gw udah gede. Atau setidaknya, seharusnya demikian. Buktinya, temen seangkatan gw udah berani ngambil tanggung jawab baru: nafkahin anak orang! Sedangkan gw, kalo ditantang ortu untuk nafkahin diri sendiri aja, saat ini blom tentu gw nyanggupin. Masih blom bikin sesuatu yg spekatkuler! Boro2 bikin sesuatu yg spekatkuler, mandiri aja blom! Padahal setahunan lagi lah gw lulus -kalo lancar, amin!-. Bis lulus malu lah gw kalo masi minta disubsidi ortu! Belom lagi ntar musti nafkahin anak orang.... .

Argh............... .Suddenly gw ngerasa tua banget ni................................. .

Tuesday, September 12, 2006

4 peniti.....

Harusnya hari senin tuh bukan hari yg sibuk... . Gimana enggak, kuliah cuman dari jam 1 - 3. Wow! Mestinya paginya bisa lari2 di sabuga, trus nyuci sepatu, atau beres2 kamar. Trus sorenya bisa nomat deh! Tapi senen ini ga enak euy! Apalagi kalo bukan karena tugas! Hidup tugas!

Waktu tingkat 2, gw pikir tugas Stimik dah sangar banget. Ternyata ga ada apa apanya dibanding yg harus gw hadepin semester ini. Dan nampaknya jg semester depan. Ok, minggu ini aja ada 3 deadline tersaji: tugas SI, Basdat, dan IB. Eh, salah ding, IB tuh minggu depan. Walaupun emang, ya tugas2 ini jg yg bikin gw ngerasa jadi anak IF! Termasuk jg tugas2 Stimik semester lalu, gw ngerasa 'anak IF banget' lah.

Ok, intinya setelah senen yang tiba2 melelahkan itu, berjalanlah gw diantara kanopi2 teduh Fisika. Niatnya sih mau pulang... sebelum dari CC terdengar suara betotan bass yg enak.. bgt. Gw lupa lagu apa. Berbeloklah gw menuju sumber suara... Oh tidak! Gw lupa! Hari ini ada acara jazz yg jg ngundang 4 Peniti di CC! Bergegaslah gw kesana.

Ok, jujur, gw bukan pecinta jazz. Dan menurut gw sih sebenernya 4 Peniti jg bukan jazz, tapi peduli amat lah dengan urusan genre2 an. Intinya gw udah kelewatan 4 Peniti main belum ya? Bis, udah jam setengah enam gitu, sedangkan acaranya sampe jam 6 doang. Duduklah gw di salah satu undakan di lapangan basket sambil dengerin sebuah band yg maen lagu berjudul 'Badminton'. Ngocol abis teksnya. Mungkin kalo gw lebih paham bahasa sunda gw akan lebih ketawa lagi. Keren jg maennya. Tangguh lah.

Agak berapa lama, gw denger ada yg manggil, "Bel.. bel.. sini". Oh! Ternyata ada Dedex dan Yovan! Gw samperin aja mereka dan dengan bodohnya gw nanya, "4 Peniti dah maen blom?"
Bodoh! Ternyata band yg sedang maen 'Badminton' inilah 4 Peniti. Bis..., gimana lagi, gw kan kenal mereka belum lama. Itu pun cuma lewat sekeping cd yg isinya cuma 6 lagu. Mana lah gw kenal tampang mereka dan lagu selain 'Tiada', 'Menari Bumi', 'CintaIni Sepanjang Hidupku', 'Anak Nakal', 'Bebek & Sapi', dan 'Indah Damai'. Ah.. gw merasa bodoh sekali!

Yaudah, pas lagu kedua si vokalisnya nanya, "ada request?" Ya sontak aja gw teriak, "Tiada.. Tiada...!" Dan... yes! Pemain biolanya langsung maen intro Tiada... . Keren banget lah! Kayanya tuh dia nikmatin banget maen biolanya. Trus dia maen sampe ke tempat penonton. Wow! Menurut gw si, semua orang di CC, mau yg emang lg nonton atau yg tadinya cuman numpang lewat doang, 'tersihir' sama maennya dia. Great!!

Then it goes.., verse, trus chorus..,
"gundah.. tiada
ragu.. tiada
resah.. tiada,
tiada..."

Um..., semua personel band kayanya nikmatin banget permainan mereka. Emosinya keluar lah. Gw suka banget ni ama live performance yang kaya gini. Iri deh. Gw pengen banget tuh maen di suatu stage yg ga perlu gede, ga perlu megah, yg penting gw ma band nikmatin banget mainnya. Trus bisa bikin penonton kebawa sama emosi lagu kita. Um... that will be unforgetable. Hmm.. kapan ya?

Ok, intinya 4 Peniti tuh emang keren. Denger recordingnya di cd aja gw yakin orang2 bakal jatuh cinta sama lagu 'Tiada', minimal. Apalagi kalo liat live-nya! Wuw!

Akhirnya 'Tiada' beres. Gw sebenernya ngarep mereka main 'Bebek & Sapi' kalo ga 'Menari Bumi' sih. Beberapa penonton jg dah teriak, "lagi.. lagi.. !" atau "Bebek & Sapi..." . Tapi sayang euy, dah mau maghrib. Jadilah terpaksa berhenti disitu. Ah... . Gapapalah, yg penting sekarang jadi positif: gw musti nonton mereka lagi tgl 17 ntar di Jazztival -though I'm not a fan of jazz-.

Oh iya, sebenernya gw jg ngarep suatu saat bisa nyatakan 'perasaan' gw ke cewek sambil maen lagu 'Bebek & Sapi' sih.. . Hehe. Tapi susah nyari personel yg bisa maenin lagu itu kali ya? Sinyo Sinyo Paradise mau ga ya ngiringin gw??? Hehe... .

Udah ah, Ebhe dah dateng nih. Mau ke X-Trans lagi buat tugas SI.... . Hidup SI! Hidup 4 Peniti! Hidup Ebhe!

Ketika SR bikin pasar seni...

Mumpung masih 2 hari

Ceritanya hari minggu kemaren, akhirnya event gede2an itu terjadi. Pasar seni. Sumpah.., ini kali pertama gw liat ada acara semegah itu di ITB sejak gw kuliah disini. Hebat lah. Um..., bahkan dibandingin dengan acara-acara yg pernah diadain himpunan2 lain yg udah full support dari alumni2 nya.

Awalnya sih gw cuma ngeliat itu tuh sebagai event aja. Cuma istimewa karena demikian megah dekornya atau karena begitu banyak pengunjungnya. Gila, ga surut2 orang yg ngunjungin dari jam 9 gw disana ampe magrib gw pulang. Buat jalan dari gerbang sipil sampe labtek V aja rasanya kaya muterin sabuga saking lamanya antri dengan ratusan (ribuan?) orang mungkin.

Barulah malemnya gw mandang acara itu dengan lebih berbeda. Karena... pas gw lagi makan indomie di warkop deket kos, sambil ditemenin lagu2 dangdut Rama FM, di meja ga jauh dari tempat gw duduk tergeletak koran PR dengan tajuk gede tentang pasar seni tsb. Gw langsung curious.... .

Wew! Ternyata even ini tuh diperhatiin seniman2 loh... . Ibaratnya kalo HMIF tuh, kita bikin even trus dikritisin sama Pak Onno atau Pak Budi Rahardjo di koran... . Kalo gw sih langsung bangga umpama even yg himpunan gw bikin dikritisin sebegitunya. Trus gw jg baru tau ternyata maksudnya even ini tu buat menghadirkan karya seni lebih deket ke orang2 bokek seperti gw! Jadi karya seni tuh ga cuman ada di galeri2 yg notabene ga akan pernah didatengin orang2 buta seni kaya gw. Gila jg 'nilai' yg mau diusung. Tangguh lah.

Cuman sayang sekali, di hadapan gw akhirnya yg terhampar cuman lautan manusia yg berdesak-desakan kesempitan dan -kalo gw sih- akhirnya ga sempet nikmatin karya seni yg disajikan stand2 itu. Paling cuman Vicenzo aja. Oh iya, plus keroncong 'Merah Putih'. Sumpah keren abis. Merubah pandangan gw ttg keroncong. Sebagaimana Titi Kamal dalam 'Mendadak Dangdut', gw mau bilang..., "Keroncong is the best!" -agak2 hiperbolis ni-

Yah.. gitulah. Sayang sekali gw belum sempet nikmatin banyak hal euy di pasar seni kemaren. Nunggu lagi, masih 4 / 5 tahun lagi. Tak apa lah ya... .

Anyway... salut abis buat KMSR. Acara yg mereka bikin tuh adalah yg paling keren yg pernah dibikin sama himpunan di ITB. -menurut gw-

Thursday, September 07, 2006

Thoughts, rhytm, and puzzle

Lagi kosong, 2 kuliah hari ini dibatalin...! Jadilah tinggal kuliah MI aja ntar jam 10. Waktu senggang yg menyenangkan, jd gw bisa bersantai-santai dan mencari hiburan online.

Tapi.. ding! Gw baru sadar, ternyata spelling di blog gw ngaco! Masa' rhytm' jadi 'rhtym'. Hmmff..... Okelah, judul blog bisa diganti, tapi kan url-nya susah. Yaudah, jadilah url blog gw tetep ngaco. Dasar bodoh.. bodoh.. .

Hmm..., semoga hari ini jadi hari yg menyenangkan. Bis, kayanya hari ini aja ni bisa nyantai gini, besok harus kembali menghadapi tugas IB dan tugas SI. Belom lagi sabtu bakal ke nikahan-nya Azman. Hihi, pertama kalinya nih gw diundang ke nikahan orang, kan biasanya yg diundang ortu dan gw cuma nebeng doang. Kali ini nih pertama kalinya emang gw yg punya urusan ama salah satu mempelai. Hidup Azman! Semoga gw cepet nyusul lo! Amin.... . -this prayer comes from the deep of my heart-

Udah ah, jadi ga nyambung ama judul posting-annya.

Wednesday, September 06, 2006

Pak Farid, snare drum dan Dream Theater

Hmmf.... kuliah yg menarik!

Ga pernah terbayangkan di benak gw sebelumnya bahwa kuliah IF yang ada kode 9 nya bisa jadi kuliah yang bermutu. Udah jadi rahasia umum bahwa 2 kuliah IF dari lab berkode 9 tuh selalu nyebelin, bosenin, dan sedikit mistis. Tapi kuliah OS barusan beda banget.

Entah dengan temen2 yg lain, gw si ngerasanya kaya anak TK yang diajarin kalkulus. Gw penuh ketidakmengertian tentang istilah2, konsep2, dan materi2 yang menurut Pak Farid -pengajar IF3191- harusnya udah dipahamin melalui 2 mata kuliah sebelumnya: IF2191 dan IF2291. Gw pikir gw emang bego sendiri. Maklumlah, orkom 1 gw dapet D -dan gw mesti ngulang semester ini, tepatnya sekarang sebenernya lagi ada kuliahnya tapi gw bolos, ga tahan mau ngepost ini sebelum menguap dari otak gw- dan orkom 2 gw dapet C. Ya, dengan skor minim kaya gitu berapa lah konsep yg gw dapet tentang arsitektur komputer, cara kerja CPU, register dll. Tapi ternyata ga sedikit dari temen2 gw yg dapet B bahkan straight A untuk orkom 1 dan orkom 2 ternyata jg sama butanya dengan gw. -um, itulah mistisnya orkom! lo ga perlu ngerti untuk dapet A- Kalo kata Echa 'starkey', "ini sih ibarat baru les drum sekali, baru jg kenal snare yg mana, trus langsung disuruh maen Dream Theater".

Dan gw yakin, seenggaknya dari raut wajah penuh kebingungan yang nampak pada sobat2 pada barisan kedua dan seterusnya, ya mereka seperti yg diilustrasiin Echa itu. -kalo baris depan... nampaknya bisa mengimbangi kedahsyatan Pak Farid ini-

Lha, terus apa emang semua temen2 gw ni bego? Ga lah ya, mereka anak IF gitu! -narsis- Lagian kalo gw jawab iya ntar bisa2 diserbu orang sekampung! So, play safe. Ga ding! Emang pada pinter koq... . Jadi kalo sobat2 gw yg dengan intelegensia diatas rata2 ini pada ga ngerti apa2, apa yg salah ya...? Kalo gw jelas: males! Yg laen... kayanya mah ga. Apa cara ngajar yg salah? Pengajar yg salah? Kita yg salah? Trus, jadi aja di akhir kuliah OS tadi gw sibuk nyanyi salah satu OST nya Southpark yg dimodifikasi jadi, "blame ***, blame ***!" -semua yg pernah ambil kuliah berkode IF dan ada angka 9 nya taulah huruf2 apa yg tepat mengisi ketiga bintang tadi-

Yah.., beginilah yg namanya posting tidak bermutu. Nyari yg salah.... melulu. Nyari cara ngebenerinnya kek. Apa kek! Kuliah kek! Hoi kuliah hoi.... !

Iya ah, kuliah ah..., supaya ga nyari siapa yang salah melulu.

Tuesday, September 05, 2006

Terburu-buru

Dung!
Ceritanya lagi di labdas 1... Tadinya mau setting-setting dulu, biasa lah.. baru punya blog gitu! Tapi entah kenapa si bapak duktek mulai mematikan lampu. Yasudah... cacau dulu lah.