Saturday, February 09, 2008

Layu Sebelum Berkembang

Sebenarnya, tulisan ini merupakan terjemahan bebas dari tulisan Carlo Garganese, jurnalis www.goal.com favorit saya. Saya sebut terjemahan karena ya…. memang menerjemahkan saja, tidak banyak ide orisinil saya yang terlibat dalam tulisan ini, hampir 90% merupakan gagasan Mas Carlo (harusnya saya panggil Senor mungkin?). Saya sebut bebas… karena setelah saya menangkap gagasan inti Mas Carlo, saya tidak sungguh – sungguh menerjemahkan kata per kata atau kalimat per kalimat, sebebas saya saja…, seingat dan sepemahaman saya saja. Malas juga kalau harus kembali mencari artikel lama tersebut.

Carlo menyoroti perkembangan “daun muda” sepakbola di tiga negara sepakbola terkemuka: Italia, Spanyol dan Inggris. Menurut Carlo, dan beliau adalah seorang warganegara Italia jadi maklum saja kalau ada “domestic bias”, model pengembangan pemain muda di Spanyol dan Inggris kurang baik. Di Spanyol dan terlebih di Inggris, pemain – pemain muda “dipekerjakan” terlalu keras sejak dini. Sejak umur 18 – 19 tahun, pemain – pemain seperti Wayne Rooney, Cristiano Ronaldo, Cesc Fabregas, Lionel Messi atau Sergio Aguerro sudah secara regular bermain di klub dengan jadwal padat: liga domestik, piala liga, dan liga Eropa. Bayangkan, menginjak usia 23 tahun kelak, sudah berapa tackle sudah dirasakan seorang Lionel Messi? Seorang pemain dapat sembuh dari cedera, tapi engkelnya tidak pernah lagi engkel yang sama, demikian juga pace yang dimilikinya. Efeknya, pada usia yang harusnya menjadi usia emas pemain tersebut, sang pemain sudah kehabisan sebagian besar atribut fisiknya. Contoh yang paling tenar: Michael Owen. Saya sendiri berpendapat, Owen saat ini seharusnya pada usia emas, bukan saat ia 18 tahun dulu. Tapi, what does he achieve now? He is much like ex-rising star, without never really be a star.

Carlo membandingkan dengan model Italia. Pemain muda klub – klub besar Italia lebih lama “bergerilya” dengan dipinjamkan ke klub – klub kecil dengan jadwal yang tidak begitu padat. Katakan Marco Andreolli milik Inter, Sebastian Giovinco milik Juventus, atau Lino Marzoratti milik Milan. Anda tidak kenal mereka? Wajar, mereka belum menjadi seorang bintang sungguhan, sabar. Anda kan tidak kenal Andrea Pirlo waktu berumur 19 tahun? Atau… coba nama – nama ini: Gianluigi Buffon, Fabio Cannavaro, Alessandro Nesta, Luca Toni, ada yang Anda tahu dimana mereka bermain pada usia 18 – 20 tahun? Nah! Menurut Carlo, model ini lebih baik karena para pemain muda “matang pada waktunya”. Lihat saja pencapaian mereka saat ini!

Saya sendiri sependapat, diluar kenyataan bahwa saya juga penggemar sepakbola Italia. Untuk menambah argumentasi, saya ingin mengambil contoh tim nasional lain yang memiliki prestasi di ajang internasional: Jerman (FYI saya tidak suka Jerman, sungguh). Lihat lah nama – nama berikut: Lukas Podolski, Philip Lahm, atau Sebastian Schwansteiger masih dipandang sebagai “rising star” di usia mereka yang rata – rata 20an. I bet they will be great when they are 23 or 25. Jadi, saya setuju dengan Anda, Senor Carlo.

Mungkin ada pengecualian untuk Brazil… they’re extraterrestrial! Pato, Kaka, Robinho, Baptista, etc. Yah, apa boleh buat, di Brazil kan sepakbola sudah seperti agama. Trivia quiz, siapa presiden Brazil? Entah. Siapa menteri olahraga Brazil? Pele, eh sudah ganti belum sih? :p

4 comments:

Rani! said...

*bikin komen ga nyambung ma isi posting mode on*

malam ini gw ngeliat tiba-tiba reader gw banyak unread items-nya.
ternyata...
postingan lo bikin banyak!

kejar tayang ya mbak? ;))

Zakka Fauzan Muhammad said...

Nice thought...

BTW, liga inggris tetep lebih seru daripada liga italia menurutku :P

qbl said...

@ rani! : wah.. maaf maaf. bukannya kejar tayang, tapi... Ya emang gw ga sempet melulu sih buat nge-post di blog. Tulisan - tulisannya kan sebenernya dah lama dibuat offline, cuma baru sempet aja dipost. Liat aja, masi pada tentang tahun baru kan.. . hehe.

@ zakka fauzan muhammad : si Carlo emang jurnalis favorit gw tentang sepakbola. Cek aja situsnya, di bagian editorial... ok ok koq. Anyway, gw lebih mengannggap liga Itali lebih seru, more tactical. Liga Inggris lebih mirip main ping pong... :p

upik jelek said...

liga spanyol jelas paling menarik
*ooooow,,,ada messi ternyata di liga spanyol, ^___^ *

liga italia paling gak menarik, gambarnya paling burem di teveku :P