Thursday, September 28, 2006

Kaderisasi, Himpie, tentang Pilihan dan Keterpaksaan (1)

Hmm... menjelang kumpul PSDA, mesti nunggu dari jam stengah empat sampe ntar jam 5. Lupa bawa Quran pula! Ding! Jadi ga bisa tilawah deh. Mendingan, blogging dulu! -ada ga ya sebenernya istilah blogging ini-


Oke, pada catatan kali ini saya berusaha berbahasa lebih formal karena rasanya topik yang saya usung kali ini memang lebih mudah dicerna dalam bahasa yang sedikit kaku seperti ini. Kaku memang, tapi lebih terstruktur tentunya.

Akhir-akhir ini beberapa teman terdekat dan ter-peduli dengan PSDA selalu menanyakan, "Bel, gimana kaderisasi 2006? " atau "Bel, gimana nih kaderisasi berjenjang??" dan pertanyaan lain yang senada. Memang, belakangan ini kebutuhan akan adanya konsep yang lebih jelas dan lebih baru tentang kaderisasi di HMIF khususnya dan di ITB umumnya dirasa semakin mendesak. Terutama karena kebijakan rektorat yang dianggap mahasiswa sangat represif terhadap makhluk super ajaib bernama 'kaderisasi' ini.

Dengan tulisan ini saya tidak sedang ingin mengatakan bahwa rektorat anti himpunan. Namun memang harapan yang diinginkan pihak rektorat saat ini akan bagaimana seharusnya aktivitas himpunan memang belum dapat dipenuhi oleh himpunan-himpunan.

Secara garis besar saya menangkap bahwa pihak rektorat menginginkan agar organisasi-organisasi kemahasiswaan menjadi wadah yang produktif (atau setidaknya begitu yang saya tangkap dari hasil pembicaraan Ivan Sugi dan Pak Widyo). Entah produktivitas itu berupa hasil riset kah, kegiatan keprofesian kah, dll. Sampai titik ini saya setuju! Memang sudah bukan saatnya lagi kegiatan himpunan hanya sekedar wisudaan dan tawuran wisudaan! (dan amat disayangkan kultur di beberapa himpunan setidaknya hingga saat saya masih TPB masih memberi kesan seperti ini kepada pihak-pihak yang melihat dari luar)

Namun ada yang terlupakan oleh pihak rektorat. Tidak mungkin himpunan-himpunan mengadakan aktivitas-aktivitas produksi tanpa adanya SDM alias anggota alias kader! Dengan kata lain, kaderisasi mutlak diperlukan.

Secara kultural, himpunan berbeda dengan unit-unit kegiatan mahasiswa. Orang berkumpul dalam unit karena kesenangan mereka akan sesuatu hal. Misal, sesama pebasket membentuk unit basket, sesama orang minang membuat unit minang, dan 'sesama'-'sesama' yang lain. Dengan kata lain, saat seseorang menjadi anggota suatu unit, maka keanggotaannya dapat dikatakan murni atas keinginannya sendiri.

Lain halnya dengan keanggotaan seseorang dalam himpunan. Seorang mahasiswa Teknik Elektro misalnya, terpaksa hanya bisa menjadi anggota HME, dan tidak akan mungkin menjadi anggota HMIF. Keanggotaan sesorang di himpunan juga belum tentu murni atas keinginannya sendiri. Katakanlah untuk mengamankan keberadaannya di lingkungan jurusan. Katakanlah karena sebagian besar teman sejurusan ikut himpunan. Beragam faktor luar bisa menjadi alasan seseorang untuk menjadi anggota himpunan. Dengan keadaan ini, himpunan harus berpikir lebih keras untuk membuat keterpaksaan anggota-anggotanya tadi menjadi 'kecintaan'. Atau jika terminologi 'kecintaan' tadi terlalu berat, katakanlah begini: himpunan harus mencari cara agar anggotanya merasa memiliki himpunan tersebut.

Karena hanya dengan anggota-anggota yang merasa memiliki himpunanlah, sebuah himpunan bisa hidup, bisa beraktivitas, bisa mengadakan seminar, bisa membuat acara kekeluargaan, bisa membuat tutorial matakuliah, bisa mengadakan riset.... -wow!- dll.

Walah... belum kelar nih, tapi pak duktek dah dateng. Dah dulu lah.

1 comment:

amudi said...

himpunan sekarang riset2an ya...
Dulu gw pikir biar bisa sedikit melupakan akademis, makanya ikut2an himpunan..